Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

MEA, saatnya Indonesia menyerbu negara lain Featured

MEA, saatnya Indonesia menyerbu negara lain
Surabaya - KoPi | ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku pada akhir 2015 nanti mengesankan harap-harap cemas. Sebenarnya, di masa AFTA nanti, kesempatan Indonesia untuk menembus pasar luar negeri sangat besar. Memang, pada saat MEA berlaku, akan banyak tenaga kerja asal luar negeri yang masuk Indonesia. Namun di sisi lain, hal ini juga berlaku untuk tenaga kerja asal Indonesia. Mereka bisa dengan mudah menyerbu negara lain.
 

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan tenaga kerja Indonesia perlu dibekali dengan keahlian agar bisa menembus negara lain. Upaya menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang berkualitas agar bisa bersaing di berbagai sektor harus dilakukan. 

Di Jawa Timur sendiri, Soekarwo telah menyiapkan SDM dari berbagai tingkat pendidikan untuk bersaing di MEA. Salah satunya adalah dengan membangun SMK Mini. "Setelah lulus, siswa SMK ini punya kompetisi yang diakui internasional. Jadi bisa langsung kerja di luar negeri," tuturnya.

Sejak 2014, Jawa Timur telah memiliki 70 SMK Mini. Tahun 2015 ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur berniat membangun 100 SMK Mini baru.

Di luar negeri, tenaga kerja asal Indonesia juga masih dibutuhkan. Konsulat Jenderal Jepang untuk Surabaya Kato Yoshiharu mengatakan di Jepang ada 28.465 orang warga negara Indonesia, baik yang belajar maupun yang bekerja. "Di setiap perusahaan seperti Daihatsu, Toyota, Honda, dan lain-lain, pasti ada orang Indonesia. Mereka kebanyakan menjadi pegawai magang di perusahaan tersebut," ungkap Kato.

Menurut Kato, tenaga kerja Indonesia yang paling banyak dibutuhkan di Jepang adalah juru rawat. populasi lansia di Jepang yang lebih tinggi daripada penduduk usia muda. Mereka tinggal di panti jompo yang banyak membutuhkan tenaga perawat, dan hanya sedikit anak muda Jepang yang mau menjadi perawat. 

"Karena itu, Jepang mendatangkan banyak tenaga perawat dari Indonesia, Filipina, Vietnam, untuk merawat mereka," ujar Kato.

Hanya saja, tenaga kerja asal Indonesia banyak yang terkendala masalah bahasa. Dari 100 orang perawat yang dikirim ke Jepang, hanya 7 orang yang lulus tes Bahasa Jepang.

back to top