Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Masalah relokasi PKL, kios baru pun belum layak pakai

Kios baru sisi barat masih tahap pembangunan Kios baru sisi barat masih tahap pembangunan

Pemerintah Kota Jogjakarta berkomitmen menata ulang kawasan Alun-Alun Utara termasuk mentertibkan para pedagang kaki lima. Namun relokasi PKL masih mendapat pertentangan dari para pedagang. Salah satunya relokasi hanya tersedia 200-an kios padahal jumlah pedagang mencapai 500-an. Selain itu kios baru pun belum layak pakai terkendala ukuran yang kecil dan lokasi dekat comberan.

Jogjakarta-Kopi| Pemerintah kota merelokasi sekitar 500-an pedagang kaki lima yang berjualan di Alun-Alun Utara. Relokasi pedagang berada di sisi timur dan barat Alun-Alun Utara. Namun hanya ada 200-an kios disediakan untuk para pedagang, sementara 300-an pedagang lainnya masih belum memiliki kejelasan tempat baru.

Menurut salah satu pedagang Tumirah (55) menyebutkan memang pihak pemkot lebih memprioritaskan tempat baru bagi pedagang lama dan pedagang yang punya kios. Tumirah sendiri awalnya berjualan di depan regol Masjid Gedhe Kauman di pindah ke kios sisi barat yang baru.

“Ada sekitar 500-an pedagang, yang dapat tempat baru baru 200-an orang. Yang lainnya belum dapat masih perundingan dengan pemkot. Kalau saya dari dulu sudah dapat pemberitahuan akan ada penataan sejak sebulan yang lalu,” jelas Tumirah.

Tumirah menambahkan meskipun sudah mendapat tempat baru, namun dirinya masih mengeluhkan kios barunya.

“Ini saya jualan warung makan, teman samping saya jualan bunga plastik semuanya ukurannya sama dapat 2,5 x 2,5 m. Kita tidak bisa minta ukurannya segini misalnya untuk warung makan,” tambah Tumirah.

Hal serupa juga diungkapkan oleh pedagang bakso, yang enggan disebutkan identitasnya. Dia menyebutkan kios barunya belum layak pakai. Pasalnya belakang kios pas tempat comberan.

“Saya jualan dari tahun 1977, tapi ini perlakuan paling keras. Ini tempatnya belum layak, masak saya jualan bakso di belakangnya tempat orang buang hajat sembarangan, ini kotor gimana pembeli mau datang,” keluhnya.

Sementara mengenai comberan ini, pihak pemkot belum berupaya untuk menutupinya dengan terpaksa para pedagang menutup comberan sendiri. Pihak pemkot kini masih memprioritaskan pembangunan kios baru di sisi barat dan sisi timur.|Winda Efanur FS|

back to top