Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Kedelai impor mahal, tempe campuran bermunculan

Kedelai impor mahal, tempe campuran bermunculan
Surabaya-KoPi| Melambungnya nilai tukar dollar membuat makanan khas Indonesia, tempe, masuk ke jajaran makanan mewah. Penyebabnya tak lain karena harga bahan baku tempe, yaitu kedelai, turut naik.
 

Harga kedelai impor yang banyak dipakai oleh perajin tempe sekarang menembus angka Rp 8.000 per kg. Nilai tukar rupiah yang belum stabil membuat perajin tempe dan tahu harus pintar-pintar mengatur harga. Rata-rata perajin tempe di Surabaya menghabiskan 4 kuintal kedelai untuk produksi satu hari. Karena itu, untuk tetap dapat memperoleh keuntungan, beberapa perajin tempe mengurangi ukuran tempe yang diproduksi. Perajin lain mencampurkan kedelai lokal dalam bahan baku kedelai impor.

Bukan hanya perajin tempe dan tahu yang pusing karena kenaikan harga kedelai impor. Konsumen tempe dan tahu juga mengeluh lantaran makanan favorit mereka semakin kecil ukurannya atau menurun mutunya.

Seperti diungkapkan Bu Caca, pemilik warung makan di kawasan Universitas Airlangga. Dalam sehari ia biasa menghabiskan 4 hingga 5 buah tempe papan. Namun belakangan ia mengurangi jumlah tempe yang disajikan. Pasalnya, tempe yang dipasok dari langganannya sedang kosong selama beberapa hari ini. Ia akhirnya menggunakan tempe dari pedagang lain.

"Tempenya nggak bagus, Mas. Digoreng sebentar sudah hitam. Nggak tau ini dicampur apa saja. Makanya ini sekarang saya kurangi," keluh Bu Caca.

Ia sering mendengar bahwa para perajin tempe mulai mencampur tempe mereka dengan beberapa bahan lain untuk menekan kerugian. "Ada yang bilang dicampur singkong, ubi, ampas kelapa, dan lain-lain. Saya malah pernah menemukan tempe yang saya jual dicampur jagung. Ya pantas saja kalau rasanya jadi aneh," tutur Bu Caca.

back to top