Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Kedelai impor mahal, tempe campuran bermunculan

Kedelai impor mahal, tempe campuran bermunculan
Surabaya-KoPi| Melambungnya nilai tukar dollar membuat makanan khas Indonesia, tempe, masuk ke jajaran makanan mewah. Penyebabnya tak lain karena harga bahan baku tempe, yaitu kedelai, turut naik.
 

Harga kedelai impor yang banyak dipakai oleh perajin tempe sekarang menembus angka Rp 8.000 per kg. Nilai tukar rupiah yang belum stabil membuat perajin tempe dan tahu harus pintar-pintar mengatur harga. Rata-rata perajin tempe di Surabaya menghabiskan 4 kuintal kedelai untuk produksi satu hari. Karena itu, untuk tetap dapat memperoleh keuntungan, beberapa perajin tempe mengurangi ukuran tempe yang diproduksi. Perajin lain mencampurkan kedelai lokal dalam bahan baku kedelai impor.

Bukan hanya perajin tempe dan tahu yang pusing karena kenaikan harga kedelai impor. Konsumen tempe dan tahu juga mengeluh lantaran makanan favorit mereka semakin kecil ukurannya atau menurun mutunya.

Seperti diungkapkan Bu Caca, pemilik warung makan di kawasan Universitas Airlangga. Dalam sehari ia biasa menghabiskan 4 hingga 5 buah tempe papan. Namun belakangan ia mengurangi jumlah tempe yang disajikan. Pasalnya, tempe yang dipasok dari langganannya sedang kosong selama beberapa hari ini. Ia akhirnya menggunakan tempe dari pedagang lain.

"Tempenya nggak bagus, Mas. Digoreng sebentar sudah hitam. Nggak tau ini dicampur apa saja. Makanya ini sekarang saya kurangi," keluh Bu Caca.

Ia sering mendengar bahwa para perajin tempe mulai mencampur tempe mereka dengan beberapa bahan lain untuk menekan kerugian. "Ada yang bilang dicampur singkong, ubi, ampas kelapa, dan lain-lain. Saya malah pernah menemukan tempe yang saya jual dicampur jagung. Ya pantas saja kalau rasanya jadi aneh," tutur Bu Caca.

back to top