Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Ini bukti ekonomi di Indonesia terpuruk

Ini bukti ekonomi di Indonesia terpuruk
Surabaya-KoPi| Kenaikan dollar terhadap rupiah memiliki dampak berarti bagi masyarakat Indonesia. Hari ini, nilai tukar dollar terhadap rupiah mencapai RP 14.700. Keadaan tersebut kemudian menjadikan gejolak baru bagi masyarakat.

Penurunan daya beli masyarakat menjadi hal penting atas kenaikan nilai tukar dolar tersebut. Kenaikan di beberapa segi produksi dan bahan pokok, sedangkan pemasukan yang tetap menjadi permasalahan utama.

Salah satu pemilik outlet fashion di Surabaya, Cahayu, merasakan dampak besar tersebut. Ia kehilangan banyak pelanggan yang diakibatkan oleh penurunan daya beli masyarakat. “September-Oktober adalah bulan tersepi toko saya. Saya rasa begini, di beberapa elemen ada kenaikan harga produksi, fashion merupakan kebutuhan sekunder masyarakat. Sehingga mereka mengutamakan kebutuhan primer mereka. Maka daya beli terhadap produk fashion sangat anjlok,” ujarnya kepada KoPi.

Cahayu menaikan harga pada setiap produk sebanyak 10%, hal ini disebabkan oleh kenaikan harga kain dan produksi. “Saya harus naikan harga jual. Ketakutan terbesar saya ada pada MEA nanti. Produk luar yang lebih murah akan lebih diperebutkan masyarakat. Lalu, bagaimana nasib kami? Usahawan asal Indonesia sendiri,” tuturnya.

Lulusan Universitas Airlangga tersebut menyayangkan sikap pemerintah yang lamban dalam menyelesaikan masalah perekonomian yang semakin terpuruk. Baginya, jika nilai tukar rupiah masih sangat anjlok, harga pokok akan semakin melambung tinggi.

“Kalau tidak cepat diselesaikan, keburu keteteran dengan kedatangan MEA. Hancur sudah pengusaha pengusaha Indonesia. Karena harga jual luar negeri lebih murah dibanding kita,” tutupnya. |Labibah|

back to top