Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Industri Jatim masih tergantung bahan baku impor

Industri Jatim masih tergantung bahan baku impor
Surabaya-KoPi| Industri Jawa Timur dikhawatirkan semakin mengalami tekanan di tengah lesunya perekonomian dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Pasalnya, banyak industri yang masih tergantung pada bahan baku impor dari China, Amerika Serikat, dan Jepang. Jika impor bahan baku dari ketiga negara tersebut macet, industri Jatim akan terkena dampaknya.
 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, M Sairi Hasbullah menyebutkan, dari Januari hingga Agustus 2015, impor bahan baku industri di Jatim sudah mencapai 10,51 milliar dollar AS. Nilai tersebut mencapai sekitar 80,65% dari total impor Jatim pada periode yang sama sebesar 13,041 miliar dollar AS. Sisanya, sebesar 10,6% atau sekitar 1,381 miliar dollar AS adalah impor barang modal dan 8,76% atau sekitar 1,141 miliar dollar AS adalah impor barang konsumsi.

"Lebih mengkhawatirkan karena ternyata impor bahan baku tersebut didominasi oleh tiga negara, yaitu China, Amerika, dan Jepang. Kontribusi ketiga negara pengimpor tersebut mencapai 38,66% dari total nilai impor Jatim," ujar Sairi Hasbullah di Surabaya, Rabu (23/9).

Dari ketiga negara tersebut, impor Jatim dari China adalah yang paling tinggi. Dari Januari hingga Agustus, realisasi impor Jatim dari negara tirai bambu itu mencapai 2,579 miliar dollar AS atau sekitar 24,13% dari total impor. Sementara impor dari Amerika mencapai sekitar 900,132 juta dollar AS atau sekitar 8,42%. Sedangkan impor dari Jepang mencapai 653,329 juta  dollar AS atau sekitar 6,11%.

"Banyak sekali produk impor dari China. Ketergantungan Jatim tidak hanya pada komoditas baja dan besi saja karena kita sering membeli mentah dari sana. Bahkan buah-buahan dan komoditas hortikultura lainnya seperti wortel, bawang merah, dan bawang putih juga impor dari Tiongkok. Untuk Agustus saja nilainya mencapai 3,1 juta dollar AS. Selain itu juga ada mesin, pupuk, dan bahan baku tekstil," terang Sairi. 

Untuk impor dari Amerika industri Jatim lebih banyak pada produk ampas kedelai atau bungkil. Produk tersebut digunakan untuk bahan baku pembuatan pakan ternak. Jatim juga mengimpor gandum-ganduman untuk industri tepung terigu dan makanan. 

"Ini yang harus dipikirkan. Harusnya impor ampas untuk pembuatan pakan ternak bisa dialihkan ke komoditas yang ada di dalam negeri sehingga langkah tersebut akan mengurangi nilai impor dan ketergantungan Jatim terhadap negara luar," ujar Sairi.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar tentu saja memperberat industri Jatim dalam memenuhi bahan baku mereka. Beban biaya produksi terus naik membuat beberapa industri mulai mengurangi volume produksi mereka, bahkan ada yang hingga gulung tikar.

back to top