Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Indonesia akan krisis ekonomi lagi?

Image From konfrontasi.com Image From konfrontasi.com

Surabaya-KoPi| Melemahnya rupiah terhadap dollar AS tidak serta merta menjadi acuan bahwa Indonesia dalam kondisi krisis ekonomi. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Grup Riset Ekonomi Direktorat Kebijakan Ekonomi Bank Indonesia (BI), Yoga Affandi pada Kamis (3/9) lalu.

BI sendiri menuturkan bahwa fundamental perekonomian Indonesia saat ini masih lebih baik dibandingkan pada krisis moneter 1998.

Meskipun begitu, pelemahan rupiah terhadap dollar AS menjadi kekhawatiran besar masyarakat Indonesia terhadap akan terjadinya krisis ekonomi seperti tahun 1998.

“Harga memang masih tergolong wajar. Belum ada kenaikan yang signifikan. Tapi justru ini malah yang menjadi sangat mengkhawatirkan. Bisa saja krisis ekonomi kita akan tumbang secara tiba-tiba. Itu yang sangat ditakuti masyarakat,” ujar Muhammad Dzani, masyarakat Surabaya.

Di pasar Surabaya sendiri belum ada dampak siginifikan atas melemahnya rupiah. “Gak ada yang naik kok Mbak. Cuma ya memang naik seperti biasa aja, nanti juga turun lagi,” tutur Imah pedagang di Pasar Pucang Surabaya.

BI menjelaskan bahwa Indonesia masih memiliki cadev sebesar US$ 107,6 miliar atau setara dengan 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Hal ini sangat berkebalikan dengan cadev Indonesia saat krisis ekonomi di 1998 yang hanya memiliki sebesar US$ 23,76 miliar.

“Yang saat ini harus dilakukan masyarakat Indoensia adalah bersiap. Data yang ditujukan pemerintah bisa jadi berbalik menjadi senjata tajam kehancuran Indonesia. Bukti nyatanya jelas, dollar semakin kuat, dan rupiah kita terpuruk jatuh. Kita harus bersiap untuk kemungkinan buruk, yaitu Indonesia akan krisis ekonomi lagi,” lanjut Dzani. |Labibah|

back to top