Menu
Montara Task Force harus ambil alih penecemaran Laut Timor

Montara Task Force harus ambil alih…

Kupang-KoPi| "Montara T...

Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Prev Next

Go-Jek, saat pemodal merebut lahan transportasi tradisional

Go-Jek, saat pemodal merebut lahan transportasi tradisional
Surabaya - KoPi | Ojek motor merupakan sarana transportasi yang disukai banyak orang. Kelincahan bermanuver dan tarifnya yang relatif terjangkau. Kini transportasi ojek diperbarui dengan datangnya Go-Jek. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, ojek bisa dipesan kapanpun melalui internet.
 

Namun keberadaan Go-Jek sendiri menimbulkan sebuah dilema bagi ojek tradisional. Di saat pengojek mulai sepi pelanggan karena semakin banyaknya orang memiliki kendaraan bermotor, keberadaan Go-Jek semakin menekan mereka.

Hasan misalnya. Tukang ojek yang mangkal di Stasiun Gubeng Baru Surabaya ini mengaku saat ini sudah semakin sedikit orang yang menggunakan jasa ojek. "Sekarang banyak orang yang punya motor sendiri. Jadi setiap hari makin sepi," ujarnya pada KoPi.

Ia mengungkapkan, jika sedang ramai, ia bisa mengantongi Rp 200.000 per hari. Namun jika sedang sepi, tak jarang tukang ojek pulang tanpa membawa uang.

Padahal, tukang ojek sendiri tidak semuanya memiliki kendaraan sendiri. Banyak dari mereka yang ikut orang. Mereka harus menyetor sebagian pendapatan mereka setiap hari pada juragan pemilik motor.

"Besarnya tidak tentu, Mas. Ada yang ditarik Rp 15.000 per hari, ada yang Rp 20.000. Saya sendiri biasanya harus setor Rp 15.000," ungkapnya.

Ketika ditanya tanggapannya mengenai adanya Go-Jek di Surabaya, Hasan mengaku hanya bisa pasrah. Menurutnya rejeki sudah ada yang mengatur. Namun, ia bercerita paguyuban tukang ojek Stasiun Gubeng berupaya meminimalisir keberadaan Go-Jek di wilayah tersebut.

"Dulu pernah ada Go-Jek yang mangkal di Stasiun Gubeng Baru. Tapi sama teman-teman diusir, tidak diperbolehkan. Kalau mereka ikut berebut di lahan kita, rejeki kita juga makin berkurang," keluhnya.

back to top