Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Go-Jek, saat pemodal merebut lahan transportasi tradisional

Go-Jek, saat pemodal merebut lahan transportasi tradisional
Surabaya - KoPi | Ojek motor merupakan sarana transportasi yang disukai banyak orang. Kelincahan bermanuver dan tarifnya yang relatif terjangkau. Kini transportasi ojek diperbarui dengan datangnya Go-Jek. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, ojek bisa dipesan kapanpun melalui internet.
 

Namun keberadaan Go-Jek sendiri menimbulkan sebuah dilema bagi ojek tradisional. Di saat pengojek mulai sepi pelanggan karena semakin banyaknya orang memiliki kendaraan bermotor, keberadaan Go-Jek semakin menekan mereka.

Hasan misalnya. Tukang ojek yang mangkal di Stasiun Gubeng Baru Surabaya ini mengaku saat ini sudah semakin sedikit orang yang menggunakan jasa ojek. "Sekarang banyak orang yang punya motor sendiri. Jadi setiap hari makin sepi," ujarnya pada KoPi.

Ia mengungkapkan, jika sedang ramai, ia bisa mengantongi Rp 200.000 per hari. Namun jika sedang sepi, tak jarang tukang ojek pulang tanpa membawa uang.

Padahal, tukang ojek sendiri tidak semuanya memiliki kendaraan sendiri. Banyak dari mereka yang ikut orang. Mereka harus menyetor sebagian pendapatan mereka setiap hari pada juragan pemilik motor.

"Besarnya tidak tentu, Mas. Ada yang ditarik Rp 15.000 per hari, ada yang Rp 20.000. Saya sendiri biasanya harus setor Rp 15.000," ungkapnya.

Ketika ditanya tanggapannya mengenai adanya Go-Jek di Surabaya, Hasan mengaku hanya bisa pasrah. Menurutnya rejeki sudah ada yang mengatur. Namun, ia bercerita paguyuban tukang ojek Stasiun Gubeng berupaya meminimalisir keberadaan Go-Jek di wilayah tersebut.

"Dulu pernah ada Go-Jek yang mangkal di Stasiun Gubeng Baru. Tapi sama teman-teman diusir, tidak diperbolehkan. Kalau mereka ikut berebut di lahan kita, rejeki kita juga makin berkurang," keluhnya.

back to top