Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Didit, pengusaha sampah terbesar di Magelang

Didit, pengusaha sampah terbesar di Magelang

Memulai usaha dari menjual telor, Didit bertemu sampah plastik yang membuatnya menjadi cukup sukses di dunia usaha. Saat ini, tiap bulan ia mampu meraup utung bersih sekitar 100 juta per bulan.

KoPi- Didit Nugroho (41) tengah bekerja membersihkan mesin pemotong ketika KoranOpini.com datang ke gudangnya. Beberapa karyawan terlihat duduk santai dan menikmati makan siang. Gudang itu berukuran sekitar seribu meter persegi yang dipenuhi tumpukan karung plastik besar dan sampah-sampah plastik berserakkan.

Wajah Didit terlihat sumringah ketika melihat tamu yang datang. Beberapa saat ia tampak terburu turun dari atas mesin perajah plastik raksasa miliknya.

“Hai, bentar ya, saya matikan dulu mesinnnya. Saya Cuma mencuci mesinnya biar bersih,” teriaknya dari jarak sepuluh meter. Setelah mempersilakan duduk, Didit minta ijin untuk mandi dan sholat dhuhur.

Pak Dit, para karyawannya yang berjumlah lebih dari 100 orang memanggilnya seperti itu. Para karyawan ini kebanyakan adalah penduduk di sekitar Desa Blondo, Magelang. Mereka bekerja sebagai penyortir sampah-sampah plastik . Memilah menjadi beberapa jenis yang kemudian dirajang dalam mesin besar. Dari hasil rajangan itu kemudian disetorkan pada pabrik-pabrik pengolah plastik atau dieksport ke beberapa negara. Para karyawan itu menerima upah dengan sistem borongan dan bulanan. Rata-rata mereka mendapatkan upah sekitar  Rp. 200.000; per minggu. Sementara karyawan di pengolahan mesin menerima upah bulanan sekitar Rp. 2. 200.000;

Pengolahan rajang sampah plastik Didit saat ini baru berusia tiga tahun terhitung sejak tahun 2011. Usia yang termasuk muda dalam sebuah angkatan usaha.

“Saya memutuskan beralih ke usaha ini setelah mempertimbangkan prosppeknya bagus.” Katanya.

Menurut Didit, usaha sampah plastik ini memiliki banyak kelebihan dibanding denngan usaha lainnya, termasuk berdagang telor yang sempat ia tekuni puluhan tahu lalu.

“Banyak orang tidak menganggap usaha ini karena dianggap kotor. Itu kelebihan pertama. Karena tidak banyak dilirik orang, usaha sampah plastik ini menjadi usaha yang relatif tak memiliki persaingan. Kedua, kita tidak kesulitan mendapatkan sumber bahannya karena tiap hari sampah plastik ada. Dan ketiga, usaha ini menjadi kita ikut membantu menjaga lingkungan hidup kita terjaga. Bayangkan kalau sampah plastik tidak diolah lagi, pasti bumi kita bisa mandul karena plastik tidak bisa diurai tanah bumi.”

Dalam ukuran usaha kecil menengah, usaha sampah plastik Didit termasuk sukses dengan produksi rata-rata perhari mencapai 2 hingga 3 ton per hari. Dalam sebulan ia mampu mengirim total sekitar 60 hingga 70 Ton ke beberapa pabrik pengolah biji plastik atau untuk kebutuhan ekspor. Dari jumlah itu, ia mampu meraup untung hingga Rp. 100.000.000;

“Alhamdulillah,” katanya, “ tapi semua itu bukan semata-mata usaha saya, semua atas izin Tuhan. Bersedekah itu tidak membuat kita menjadi miskin. Itu saya imani bersama keluarga saya. Itu semua membuat mudah usaha saya.

Meskipun mengaku tidak ingin memperkaya diri sendiri, Didit sudah berencana mengembangkan usahanya di beberapa daerah di luar Jawa.

back to top