Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Desain harga BBM tak jelas bikin pengusaha kesal

Desain harga BBM tak jelas bikin pengusaha kesal
Surabaya - KoPi | Meski pertumbuhan ekonomi Jawa Timur berhasil mencatat angka yang lebih tinggi dibandingkan nasional, masih ada beberapa pengusaha yang pesimis dengan prospek ekonomi 2015. Alasannya, pemerintah masih belum terbuka mengenai rencana kenaikan harga BBM setelah Lebaran nanti.
 

"Sampai sekarang kebijakan pemerintah soal BBM masih belum terarah. Dari kemarin naik-turun terus, makanya pengusaha jadi kesal," ujar Muhammad Zakki, pengusaha kopi asal Surabaya.

Zakki mengatakan, harga BBM yang tidak jelas seperti ini membuat daya beli masyarakat turun. Saat BBM naik, harga-harga di pasar tradisional ikut naik. Namun ketika pemerintah menurunkan harga BBM, harga di pasar tidak ikut turun. "Konsumen rugi, pengusaha juga jadi bingung," tukas Zakki dengan kesal.

Alasan tersebut yang membuat industri manufaktur di Jawa Timur mengalami kemunduran. Zakki mengatakan, saat ini banyak pengusaha yang lebih memilih bisnis trading daripada manufaktur. 

"Mereka bilang kalau trading itu enak, tinggal jual dengan selisih harga saja. Kalau manufaktur, sudah bingung ngurus harga, masih diributin soal kenaikan BBM dan upah pekerja," keluh Zakki.

Zakki yang juga memiliki bisnis perhotelan tersebut juga meragukan kesediaan pemerintah Jatim membantu permodalan. Menurutnya, bunga kredit di Bank UMKM justru lebih besar daripada di bank swasta. "Saya kredit di BCA hanya kena bunga 10 persen, tapi di Bank UMKM malah kena 12 persen," ujarnya.

back to top