Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Desain harga BBM tak jelas bikin pengusaha kesal

Desain harga BBM tak jelas bikin pengusaha kesal
Surabaya - KoPi | Meski pertumbuhan ekonomi Jawa Timur berhasil mencatat angka yang lebih tinggi dibandingkan nasional, masih ada beberapa pengusaha yang pesimis dengan prospek ekonomi 2015. Alasannya, pemerintah masih belum terbuka mengenai rencana kenaikan harga BBM setelah Lebaran nanti.
 

"Sampai sekarang kebijakan pemerintah soal BBM masih belum terarah. Dari kemarin naik-turun terus, makanya pengusaha jadi kesal," ujar Muhammad Zakki, pengusaha kopi asal Surabaya.

Zakki mengatakan, harga BBM yang tidak jelas seperti ini membuat daya beli masyarakat turun. Saat BBM naik, harga-harga di pasar tradisional ikut naik. Namun ketika pemerintah menurunkan harga BBM, harga di pasar tidak ikut turun. "Konsumen rugi, pengusaha juga jadi bingung," tukas Zakki dengan kesal.

Alasan tersebut yang membuat industri manufaktur di Jawa Timur mengalami kemunduran. Zakki mengatakan, saat ini banyak pengusaha yang lebih memilih bisnis trading daripada manufaktur. 

"Mereka bilang kalau trading itu enak, tinggal jual dengan selisih harga saja. Kalau manufaktur, sudah bingung ngurus harga, masih diributin soal kenaikan BBM dan upah pekerja," keluh Zakki.

Zakki yang juga memiliki bisnis perhotelan tersebut juga meragukan kesediaan pemerintah Jatim membantu permodalan. Menurutnya, bunga kredit di Bank UMKM justru lebih besar daripada di bank swasta. "Saya kredit di BCA hanya kena bunga 10 persen, tapi di Bank UMKM malah kena 12 persen," ujarnya.

back to top