Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Desain harga BBM tak jelas bikin pengusaha kesal

Desain harga BBM tak jelas bikin pengusaha kesal
Surabaya - KoPi | Meski pertumbuhan ekonomi Jawa Timur berhasil mencatat angka yang lebih tinggi dibandingkan nasional, masih ada beberapa pengusaha yang pesimis dengan prospek ekonomi 2015. Alasannya, pemerintah masih belum terbuka mengenai rencana kenaikan harga BBM setelah Lebaran nanti.
 

"Sampai sekarang kebijakan pemerintah soal BBM masih belum terarah. Dari kemarin naik-turun terus, makanya pengusaha jadi kesal," ujar Muhammad Zakki, pengusaha kopi asal Surabaya.

Zakki mengatakan, harga BBM yang tidak jelas seperti ini membuat daya beli masyarakat turun. Saat BBM naik, harga-harga di pasar tradisional ikut naik. Namun ketika pemerintah menurunkan harga BBM, harga di pasar tidak ikut turun. "Konsumen rugi, pengusaha juga jadi bingung," tukas Zakki dengan kesal.

Alasan tersebut yang membuat industri manufaktur di Jawa Timur mengalami kemunduran. Zakki mengatakan, saat ini banyak pengusaha yang lebih memilih bisnis trading daripada manufaktur. 

"Mereka bilang kalau trading itu enak, tinggal jual dengan selisih harga saja. Kalau manufaktur, sudah bingung ngurus harga, masih diributin soal kenaikan BBM dan upah pekerja," keluh Zakki.

Zakki yang juga memiliki bisnis perhotelan tersebut juga meragukan kesediaan pemerintah Jatim membantu permodalan. Menurutnya, bunga kredit di Bank UMKM justru lebih besar daripada di bank swasta. "Saya kredit di BCA hanya kena bunga 10 persen, tapi di Bank UMKM malah kena 12 persen," ujarnya.

back to top