Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Cukai rokok dinaikkan, SKT makin terdesak

Cukai rokok dinaikkan, SKT makin terdesak
Surabaya-KoPi| Disepakatinya RAPBN 2016 dikhawatirkan akan menambah beban industri rokok nasional. Pasalnya, dalam RAPBN tersebut, cukai tembakau dinaikkan menjadi Rp 139,8 triliun atau naik 15 persen dibandingkan target dalam APBN 2015 yang sebesar Rp 120,6 triliun.
 

Data dari Badan Kebijakan Fiskal (BKF) mengungkapkan bahwa kenaikan tarif cukai akan mencapai 15 persen itu berlaku di 2016. Nominal kenaikan akan berbeda di tiap layer, tergantung jenis rokok dan kapasitas produksi.

Kenaikan tersebut disambut kekecewaan pelaku industri tembakau. Sebelum RAPBN 2016 disepakati, pelaku industri tembakau berharap target penerimaan cukai hasil tembakau berkisar di angka 7 persen.

Kenaikan tarif cukai sebesar 15 persen dianggap menjadi ancaman serius bagi pelaku indutri tembakau. Apalagi, segmen padat karya seperti Sigaret Kretek Tangan (SKT) saat ini tengah mengalami penurunan.

Menurut data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, SKT mengisi 21 persen dari total pasar industri tembakau di tahun 2014. Dari total 995 pabrikan, 569 atau 57 persen merupakan produsen SKT. Jumlah pabrikan ini sudah mengalami penurunan dari 4.669 di tahun 2007 menjadi 995 pabrik di tahun 2014.  Akibat penurunan tersebut, lebih dari 32.000 pekerja di-PHK pada tahun 2014. 

back to top