Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Batik dan budaya lokal dieksploitasi asing, masyarakat jangan bangga

Batik dan budaya lokal dieksploitasi asing, masyarakat jangan bangga
Surabaya - KoPi | Kesadaran mengenai perlindungan budaya lokal mulai muncul di kalangan masyarakat baru-baru ini. Klaim Malaysia atas Reog Ponorogo dan angklung, serta yang terbaru, hak paten tempe mendoan, memicu kesadaran tersebut. Sayangnya, kesadaran tersebut hanya muncul secara reaktif dan timbul tenggelam.
 

Menurut ahli hak kekayaan intelektual Universitas Airlangga Rahmi Jened, era globalisasi membawa konsekuensi eksploitasi terhadap budaya lokal. Banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa kekayaan budaya mereka telah dicuri atau dimanfaatkan dengan tidak adil oleh pihak lain.

Rahmi mencontohkan bagaimana perusahaan pakaian olahraga Adidas memanfaatkan batik sebagai salah satu motif terbaru produk mereka. Adidas juga menggunakan pemain sepak bola terkenal, David Beckham untuk mempromosikan produk mereka. Di dunia maya banyak akun-akun yang merasa bangga karena budaya Indonesia menjadi bagian dari sebuah merk global.

Namun, banyak yang tidak sadar hal ini adalah salah satu eksploitasi budaya Indonesia yang dilakukan oleh pihak asing demi kepentingan komersial. "Padahal, Adidas tidak memberikan timbal balik yang adil kepada pelaku budaya lokal," tutur Rahmi kepada KoPi (18/11).

Rahmi membandingkan bagaimana sikap Australia ketika mengetahui salah satu budaya lokal mereka dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Australia pernah menuntunt kantor berita CNN karena menampilkan tarian tradisional suku Aborigin Australia dalam iklan mereka. Tindakan tersebut dilakukan karena CNN tidak meminta ijin kepada Australia atas penggunaan budaya mereka untuk kepentingan komersial. Hasilnya, Australia menang dan mendapat kompensasi jutaan dollar. 

"Di Indonesia malah sebaliknya. Budaya kita dimanfaatkan orang asing untuk kepentingan komersial, kita tak dapat apa-apa, malah bangga. Padahal Adidas dapat keuntungan yang sangat besar dan tidak memberi kontribusi pada pelaku budaya di Indonesia," tukas dosen Fakultas Hukum UNAIR tersebut.

back to top