Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Batik dan budaya lokal dieksploitasi asing, masyarakat jangan bangga

Batik dan budaya lokal dieksploitasi asing, masyarakat jangan bangga
Surabaya - KoPi | Kesadaran mengenai perlindungan budaya lokal mulai muncul di kalangan masyarakat baru-baru ini. Klaim Malaysia atas Reog Ponorogo dan angklung, serta yang terbaru, hak paten tempe mendoan, memicu kesadaran tersebut. Sayangnya, kesadaran tersebut hanya muncul secara reaktif dan timbul tenggelam.
 

Menurut ahli hak kekayaan intelektual Universitas Airlangga Rahmi Jened, era globalisasi membawa konsekuensi eksploitasi terhadap budaya lokal. Banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa kekayaan budaya mereka telah dicuri atau dimanfaatkan dengan tidak adil oleh pihak lain.

Rahmi mencontohkan bagaimana perusahaan pakaian olahraga Adidas memanfaatkan batik sebagai salah satu motif terbaru produk mereka. Adidas juga menggunakan pemain sepak bola terkenal, David Beckham untuk mempromosikan produk mereka. Di dunia maya banyak akun-akun yang merasa bangga karena budaya Indonesia menjadi bagian dari sebuah merk global.

Namun, banyak yang tidak sadar hal ini adalah salah satu eksploitasi budaya Indonesia yang dilakukan oleh pihak asing demi kepentingan komersial. "Padahal, Adidas tidak memberikan timbal balik yang adil kepada pelaku budaya lokal," tutur Rahmi kepada KoPi (18/11).

Rahmi membandingkan bagaimana sikap Australia ketika mengetahui salah satu budaya lokal mereka dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Australia pernah menuntunt kantor berita CNN karena menampilkan tarian tradisional suku Aborigin Australia dalam iklan mereka. Tindakan tersebut dilakukan karena CNN tidak meminta ijin kepada Australia atas penggunaan budaya mereka untuk kepentingan komersial. Hasilnya, Australia menang dan mendapat kompensasi jutaan dollar. 

"Di Indonesia malah sebaliknya. Budaya kita dimanfaatkan orang asing untuk kepentingan komersial, kita tak dapat apa-apa, malah bangga. Padahal Adidas dapat keuntungan yang sangat besar dan tidak memberi kontribusi pada pelaku budaya di Indonesia," tukas dosen Fakultas Hukum UNAIR tersebut.

back to top