Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Balada tenun stagen Yogyakarta, antara hidup dan mati

Balada tenun stagen Yogyakarta, antara hidup dan mati

Jogja-KoPi│Alat pemintal benang berdiri kokoh di depan rumah-rumah warga Sejatidesa, Sumberarum, Yogyakarta. Srak... begitu bunyi mesin tenun ini ketika dimainkan oleh Katinah, usianya tak lagi muda, tepatnya 54 tahun. Namun, demi mencukupi kebutuhan keluarga Katinah tetap menenun walau rupiah yang dihasilkannya tidak seberapa.

Tenun yang dihasilkan oleh Katinah adalah tenun stagen. Stagen sendiri merupakan kain yang digunakan untuk mengikat perut saat pasca-melahirkan atau biasa digunakan sebagai pelengkap saat menggunakan kain jarik. Menenun dijadikan kegiatan sampingan ketika Katinah tak lagi di ladang.

“Dari pada tidak ada kegiatan ya menenun saja, lumayan untuk tambahan uang belanja. Sudah jadi kebiasaan sejak muda juga,” jelasnya.

Harga setiap 10 meter kain tenun yang dibuat Katinah hanya dihargai Rp. 20.000,- oleh tengkulak yang berasala dari Yogyakarta dan Jakarta. Namun, biasanya Katinah menjual tenun stagennya dalam satuan kodi dengan harga Rp. 150.000,- Tiap kodi berisi 20 kain tenun stagen yang tiap-tiap tenun stagennya berukuran 10 meter.

Harga yang tidak sebanding dengan kerja keras Katinah. Bahan utama untuk tenun sendiri yaitu benang dan pakan, masing-masing berharga Rp. 35.000,-/kg dan Rp. 13.000,-. Menurut Katinah, ia biasa membeli benang gulungan yang tiap satu gulung benang memiliki berat 5 kg dengan harga Rp. 175.000,-.

Sementara itu, pakan yang digunakan sebanyak 10 kg dengan total harga Rp. 130.000,-. Modal awal sebanyak Rp. 305.000,- ini akan menghasilkan 2 kodi hingga 3 kodi tenun stagen.

“Satu gulungan benang yang seberat 5 kg biasanya jadi 3 kodi tenun stagen, kadang-kadang juga 2 kodi,” jelas Katinah.

Walaupun, tiap satu gulungan benang jadi 3 kodi atau 2 kodi, namun waktu pengerjaan tenun stagen ini terbilang lama. Menurut Katinah, untuk 1 kodi tenun stagen ia membutuhkan waktu kira-kira 2 bulan. Waktu yang lama ini tidak sebanding dengan harga yang diberikan untuk setiap kain tenun stagen. Keuntungan maksimal yang diperoleh Katinah untuk tiap kodinya sebesar 30% dari harga jualnya.

Pemasaran yang hanya mengandalkan dari tengkulak yang datang dan pesanan inilah menjadi salah satu faktor rendahnya harga tenun stagen. Menurut Katinah ia dan penenun-penenun lain masih kebingungan dalam mencari pasar untuk tenun stagen ini, sehingga tergantung dari tengkulak dan pesanan.

Inovasi Dreamlion

Inovasi baru dengan memberikan warna pada tenun stagen mulai dilakukan di desa ini. Inovasi yang dilakukan oleh Dreamdelion (komunitas pecinta tenun) yaitu merubah tenun yang tadinya satu warna menjadi berwarna-warna atau biasa disebut dengan rainbow stagen. Namun, inovasi ini kurang bisa diikuti oleh penenun-penenun tua yang ada di Sejatidesa termasuk Katinah.

Katinah mengaku walau harga dari stagen yang berwarna lebih mahal, namun proses pengerjaannya membuat ia bingung. “Kalau mau buat yang berwarna tidak sanggup, sulit mikir warna benang-benangnya,” jelas Katinah.

Selain itu, pemasaran stagen berwarna jauh lebih sedikit dibandingkan dengan stagen hitam dan biru. Inilah yang membuat Katinah dan penenun-penenun lainnya tidak membuat stagen warna.

“Kalau yang warna belum tentu pembelinya, tapi kalau yang hitam sama biru sudah pasti pembelinya, sudah tau pasarnya,” kata Katinah.

Katinah berharap harga tenun stagen dapat lebih baik dari sekarang. Pemerintah juga diharapkan untuk membantu pemasaran tenun stagen sehingga tidak hanya mengandalkan dari tengkulak dan pesanan.

“Harapannya harga tenun stagen bisa naik, sehingga bisa memenuhi kebutuhan”, ungkap Katinah.

back to top