Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Yogya kehilangan identitas budayanya karena hotel

Yogya kehilangan identitas budayanya karena hotel

Jogja-KoPi│Yogyakarta yang terkenal sebagai kota budaya dan kota pelajar telah luntur dengan adanya hotel-hotel baru di Yogyakarta. Cagar-cagar budaya banyak yang digusur dan digantikan hotel baru di Yogyakarta.

"Saat ini terdapat 67 hotel baru mulai dibangun di Yogyakarta. Sekolah-sekolah yang merupakan cagar budaya banyak yang digusur dan digantikan dengan hotel," papar Dodok Putra Bangsa, saat Seminar Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya, Sabtu (19/03).

Menurutnya, masyarakat Yogyakarta harus mengembalikan kota yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota budaya. Salah satunya yaitu dengan menggunakan konsep kampung wisata. Konsep kampung wisata ini diharapkan mampu menghilangkan konsep hotel dari Yogyakarta. Dalam kampung wisata tersebut dimanfaatkan rumah warga sebagai homestay.

"Dengan memanfaatkan pengembangan kampung wisata akan menciptakan lahan pekerjaan baru bagi masyarakat, sehingga perekonomiam tidak terpusat pada hotel-hotel yang ada," jelas Dodok Putra Bangsa.
Semua masyarakat terbedayakan dalam konsep kampung wisata ini. Masyarakat dapat ikut serta dalam mengambil peluang dari kampung wisata ini, mulai dari kuliner, tourguide, maupn tempat penginapan. Selain itu, kampung wisata juga mempertahankan budaya yang ada dimasyarakat, seperti budaya selapan yang ada dalam masyarakat Yogyakarta.

Dengan adanya kampung wisata ini, wisatawan dapat melihat budaya-budaya unik yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Menurut Dodok Putra Bangsa, "Rumah warga yang digunakan sebagai homestay dalam konsep kampung wisata dapat mengurangi penggusaran sawah, bangunan cagar budaya, serta sumur-sumur hotel yang menyedot air masyarakat." │Frenda Yentin

back to top