Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Sleman-KoPi | Tim peneliti Fakultas Geografi UGM berhasil mengembangkan alat yang membantu untuk mendeteksi bencana longsor lebih dini. Alat yang bernama SIPENDIL atau sistem penjelajah dini longsor ini berbentuk sederhana dan mudah dioperasikan oleh masyarakat.

 

Sipendil dikembangkan oleh dosen Departemen Geografi Lingkungan Nugroho Christanto, M.Sc., dan Dr. M. Anggri Setiawan, M.Sc., bersama dengan Sulkhan Nurrohman, S.Si., yang merupakan alumnus Fakultas Geografi UGM.  Cara kerja SIPENDIL ini berdasarkan dari ambang batas hujan atau ketebalan hujan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya longsor

Nugroho pun mengungkapkan awal ide pembuatan ini pada tahun 2013 lalu di Wonosobo yang rawan bencana longsor. Alhasil, alat tersebut teruji berhasil bekerja dengan baik dan mampu mendeteksi dini adanya kemungkinan longsor di wilayah tersebut.

”Ide pembuatan alat ini pada 2013 lalu atas permintaan masyarakat Sitieng, Kejajar, Wonosobo yang merasa khawatir akan ancaman tanah longsor. Pernah satu kali, alat tersebut  menangkap adanya ambang batas hujan yang tinggi dan kepala dukuh memutuskan agar warga mengungsi. Benar saja, longsor terjadi beberapa waktu kemudian," ungkap Nugroho Christanto saat jumpa pers di Kantor Humas UGM, Jum'at (18/5). 

Saat ini, Sipendil telah dipasang di lebih dari 40 titik di daerah Banjarnegara, Temanggung ,Wonosobo yang masuk ke dalam wilayah rawan longsor. 

Sementara, Nugroho juga menjelaskan alat dikembangkan sendiri menggunakan komponen sederhana yang mudah diperoleh di toko elektronik dan bahan bangunan. Alat tersebut tersusun atas dua komponen utama yakni pipa penampung air hujan dan box controller. Pada box controller terdapat sejumlah komponen seperti kran pelimpah, lampu LED, threshold controller, dan power. 

Dalam penggunaan sistem peringatan dini ini dikatakan Nugroho mengimbuhkan pengguna seyogyanya selalu mengosongkan tabung setiap harinya di pagi hari dengan membuka kran pelimpah dan mencatat volume air yang tertampung. Catatan ini akan bermanfaat sebagai penentu nilai ambang batas hujan untuk longsor. 

Pengaturan nilai ambang batas dilakukan melalui threshold controller. Sipendil dapat diset pada ambang batas 50, 55, 60, 65, 70, 75, dan 80 mm.

Cara kerja sistem peringatan dini longsor ini cukup sederhana dan mudah dipahami. Apabila curah hujan yang tertampung pada tabung penampungan melewati ambang batas, maka alarm atau sirine alat tersebut berbunyi memberikan peringatan pada pemilik alat.

”Sistem peringatan dini longsor ini juga dilengkapi dengan lampu LED yang akan menyala saat curah hujan melebihi ambang batas sehingga masyarakat dengan gangguan pendengaran tetap bisa mengetahui jika alarm berbunyi,”tambahnya. 

Nugroho menjelaskan dalam membangun sistem peringatan dini tanah longsor ini juga diperlukan dukungan data histori kejadian longsor dan data curah hujan yang pernah terjadi. Dari data tersebut akan diperoleh hubungan antara curah hujan dan longsor sebagai dasar penentu ambang batas kemampuan tanah untuk merespon curah hujan maksimal. 

”Setiap wilayah akan memiliki ambang batas yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik lahannya seperti tebal tanah, tipe tanah dan kemiringannya,"terangnya.

Alat ukur curah hujan, dikatakan Nugroho dapat dikembangan dengan alat sederhana dan mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Misalnya saja dibuat dengan menggunakan botol air mineral, pipa pralon pvc, corong minyak plastik dan lainnya. 

Sipendil saat ini telah diproduksi secara massal dan dipasarkan dengan harga Rp. 1,5 juta per unit. Selain menerima pesanan pembuatan sistem peringatan deteksi dini longsor, Nugroho dan tim juga membuka layanan bagi masyarakat yang menginginkan bimbingan dalam pengembangan alat ini. 

”Harapannya masyarakat dapat mengembangkan sendiri sistem peringatan dini,"pungkasnya. 

Meski SIPENDIL bisa didik longsor secara dini, namun kekurangannya alat ini tidak bisa memastikan apakah longsor terjadi atau tidak. Nugroho pun mengimbuhkan bahwa semua keputusan untuk mengungsi atau tidak jika alarm tersebut berbunyi di tangan sang pemilik

"Alat ini bekerja dengan baik untuk menjamin diniakan tidak bisa memastikan gempa panjang, oleh karena niteni (perhatian) sekitar juga perlu. Alat ini akan lebih meyakinkan bahwa pemilik akan mengungsi atau tidak," pungkasnya.

back to top