Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Sleman-KoPi| Memasuki pertengahan tahun 2018, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersama Eliminate Dengue Project Yogya menemukan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami penurunan tahun ini. Kota Yogyakarta hingga bulan Mei terdapat hanya 46 kasus demam berdarah dalam kurun waktu 6 bulan.

 

Kepala bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, drg . Yudiria Amelia mengatakan angka tersebut lebih sedikit dibanding periode yang sama pada tahun 2017 sebanyak 350 kasus. Menurutnya, tahun 2017 dan 2016 kasus DBD di Kota Yogyakarta sendiri mengalami outbreak yang cukup tinggi hanya dalam waktu 6 bulan

 “Tahun ini sendiri mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun lalu dan tahun 2016. Meski kasus turun, pengendalian DBD tetap harus dijalankan,” jelas drg. Yudi, saat jumpa Pers di Ruang Rapat Humas UGM, Jumat (8/6).

Yudiria kembali menjelaskan dari 46 kasus DBD yang terjadi, satu orang telah meninggal dunia dalam kurun waktu 6 bulan. Sementara itu, pada tahun 2017, jumlah orang yang meninggal terhitung mencapai 7 orang namun dalam kurun waktu 1 tahun. 

Meski Yudiria mengatakan bahwa terjadi penurunan kasus DBD, ia belum bisa memaparkan penyebab pasti terjadinya penurunan ini. Projek pelepasan nyamuk Dengue ber-Wolbachia oleh EDP pun belum menjadi kepastian alasan angka kasus DBD menurun tahun ini. 

Justru, salah satu peneliti pendamping EDP Yogya, dr. Riris Andono Ahmad menuturkan bahwa nyamuk ber-Wolbachia EDP bukan menjadi faktor penurunan ini. Menurutnya, penurunan kasus ini justru terjadi karena siklus musiman outbreak DBD yang terjadi 5 tahun sekali.

"Penurunan kasus tahun ini belum menjadi pegangan bahwa intervensi kami yang menyebabkan hal itu. Karena kita melihat adanya penurunan hampir diseluruh wilayah di Indonesia yang menunjukkan adanya penurunan kasus DBD tahun ini," imbuh Andono.

Setelah pelepasan nyamuk Wolbachia tahun 2017, Andono menyampaikan sampai sekarang frekuensi stabilisasi Wolbachia di kota Yogyakarta hingga 80-90%. Pihaknya pun akan memantau terus hingga tahun 2019 untuk selanjutnya bisa diambil kesimpulan apakah nyamuk Wolbachia yang menyebabkan penurunan ini. Pihaknya pun bekerjasama dengan sejumlah puskesmas di Yogyakarta.

EDP pun sudah menggelar kegiatan bertajuk studi Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED)dengan melibatkan 17 Puskesmas dan Pustu di Kota Yogyakarta dan satu Puskesmas di Kab. Bantul. 

“Kami merekrut pasien demam yang berobat di puskesmas-puskesmas tersebut,” jelas Andono.

Ia mengungkapkan pihaknya telah berhasil merekrut 1.408 responden per tanggal 7 Juni 2018 dari target 10.000 responden yang diharapkan dapat tercapai pada penghujung 2019. 

Dari rekrutmen tersebut, EDP Yogya akan memperoleh perbandingan kasus DBD di wilayah pelepasan Wolbachia dan wilayah pembanding. dr. Riris berharap studi yang diawasi secara ketat oleh pengawas eksternal dari Oxford University Clinical Research unit (OUCRU) akan menghasilkan data yang valid, dapat dipertanggung jawabkan, dan mampu membantu pemerintah dalam membuat kebijakan penanganan kasus DBD kedepan.

back to top