Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Stand asing mewarnai Pesona Pangan Nusantara yang ke-10

Stand asing mewarnai Pesona Pangan Nusantara yang ke-10

Jogja-KoPi| Acara Pesonan pangan Nusantara yang kembali digelar di Yogyakarta  27 November 2015 -1 Desember 2016, kali ini tampak berbeda. Terlihat beberapa stand makanan asing yang memenuhi stand yang ada dalam pameran.

Dari 171 stand yang ada terdapat lebih dari 15 stand makanan asing. Stand-stand asing ini memberi warna baru dalam pameran. Stand UMKM dan makanan lokal terlihat tenggelam di antara stand-stand makanan asing, terlihat dari desain stad dan harga yang ditawarkan.

Desain stand makanan asing yang dihiasi dengan miniature dan mode modern tentu berbeda dengan desain stand-stand UMKM dan makanan lokal yang penuh dengan kesederhanaan.

Namun stand-stand UMKM dan makanan lokal optimis dapat mengalahkan stand-stand asing.

"Kami optimis dapat bersaing dengan stand-stand makanan asing, kami tidak akan takut dengan mereka, produk lokal juga memiliki keistimewaan sendiri dibanding produk asing", jelas Suci Wirastama, owner Tri Angle Brownish salah satu UMKM di Balikpapan.

Pameran yang seharusnya untuk mempromosikan pangan nusantara malah berubah menjadi ajang persaingan antar pangan nusantara dan pangan asing. Pengusaha jenis kuliner asing diberikan kebebasan dalam membuka stand di pameran ini dengan membayar uang sewa stand. Para pemilik stand makanan asing pun memanfaatkan pameran ini sebagai media promosi mereka.

"Pameran Pangan Nusantara berfungsi sebagai ajang promosi kita, untuk memperkenalkan produk kita", ujar Ailie, owner Kiddo, salah satu jenis makanan Jepang. |Frenda Yentin|

back to top