Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Sektor wisata Yogyakarta dinilai tidak menarik

Sektor wisata Yogyakarta dinilai tidak menarik

Jogja-KoPi| Janianton Damanik (Dosen Fisipol UGM), menilai pariwisata Yogyakarta masih tidak menarik berdasarkan length of stay wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Menurutnya wisatawan yang berkunjung mayoritas datang pada saat long weekend atau weekend saja. Hal ini disebabkan daya tarik wisata yang ditawarkan Yogyakarta semakin lemah dan tidak memiliki kekhasan Kota Yogyakarta.

"Semisal dalam bangunan hotelnya setidaknya ada kekhasan dari Yogyakarta, entah itu dari bentuk dan ornamen. Sekarang ini bangunan hotel lebih mencontek bentuk dari luar negeri," katanya dalam diskusi MAP, di Gedung Fisipol Unit 2 UGM, Selasa (28/2).

Untuk meningkatkan pariwisata Yogyakarta, Janianton menyarankan pemerintah mengoptimalkan atraksi pariwisata yang ada serta menciptakan atraksi pariwisata yang baru. Dalam pemantauannya, Janiaton melihat atraksi pariwisata Yogyakarta saat ini sama seperti atraksi pariwisata di tempat lain. Padahal menurutnya, Yogyakarta memiliki potensi atraksi pariwisata alam yang belum digali seperti karst atau batuan gamping.

"Memang kita ada atraksi pariwisata, namun masih bersifat homogen, pantai itu di semua tempat di Yogyakarta sama saja. Tujuan agar setiap tempat ada special interest-nya, nantinya wisatawan dapat lebih tertarik Yogyakarta dan stay lebih lama," jelasnya.

Janiaton juga menekan pentingnya masyarakat lokal dilibatkan dalam industri pariwisata ini. Menurutnya pengusaha lokal sudah kalah saing dengan investor asing. Keberadaan hotel berbintang dengan memasang rate atau tarif menginap yang sama dengan hotel melati membuat pengusaha lokal tak berkutik untuk mengambil keuntungan dari wisatawan.

"Hotel bintang akan menghancurkannya hotel lokal, dengan pemasangan tarif yang sama, nantinya keuntungannya akan lari ke luar Yogyakarta yang di tangan investor asing," katanya.

Salah satu upaya dalam melepaskan cengkraman investor asing ini adalah dengan berdirinya homestay. Janiaton memaparkan meski keuntungan yang diambil tidak berdampak besar ke pendapatan daerah namun setidaknya uang tersebut kembali ke masyarakat lokal.

Janiaton mengatakan jika perencanaan ini dapat terlaksana, perlu ada koordinasi kembali dengan semua pihak. Karena pemerintah perlu mengantisipasi agar keuntungan dari industri pariwisata ini tidak lari ke tangan investor asing.

"Realisasi itu memang sulit, namun tidak mustahil. Perlu ada koordinasi kuat dalam kepariwisataan, perlu juga evaluasi dan konsistensi pembangunan,"pungkasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top