Menu
Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi jangan jauhi pelakunya

Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi …

Jogja-KoPi|Menteri Agam...

Gus Ipul akan perkuat pendidikan agama

Gus Ipul akan perkuat pendidikan ag…

Nganjuk-KoPi| Wakil Gub...

Menhub meminta PT KAI mengantisipasi bahaya longsor

Menhub meminta PT KAI mengantisipas…

Jogja-KoPi|Memasuki mus...

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah Kejuruan Industri

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah…

Jogja-KoPi|Kementerian ...

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari Komunikasi Interpersonal

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari…

Sleman-KoPi| Lulusan dari...

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untuk patroli di tutup tahun 2017

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untu…

Jogja-KoPi|Kepolisian R...

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald Trump sebagai orang gila

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald T…

Sleman-KoPi| Buya Ahmad...

Taiwan Higher Education Fair UMY tawarkan beasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Taiwan

Taiwan Higher Education Fair UMY ta…

Bantul-KoPi Universitas...

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota ciptakan Skema Pembiayaan Terintegrasi

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota cipta…

Surabaya-KoPi| Sekdapro...

Mendikbub belum berlakukan UN model esai

Mendikbub belum berlakukan UN model…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Prev Next

Sejumlah pewarta di Purwokerto mengalami kekerasan oleh aparat

Sejumlah pewarta di Purwokerto mengalami kekerasan oleh aparat
Purwokerto-KoPi| Sejumlah pewarta mengalami kekerasan yang dilakukan oleh polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja  (Satpol PP) Banyumas di Purwokerto. 
Kekerasan terjadi saat para pewarta tengah meliput pembubaran paksa aksi tolak pembangunan PLTPB Gunung Slamet di depan kantor Bupati Banyumas, Senin (9/10) malam.
 
Beberapa pewarta mengalami luka-luka dan kehilangan atau rusak alat-alat piranti meliput  akibat kebrutalan aparat polisi dan Satpol PP.
 
Salah satu wartawan Metro TV, Darbe Tyas menjadi korban kekerasan fisik, berupa pemukulan dan pengroyokan sejumlah anggota kepolisian Polres Banyumas dan Satpol PP Pemkab Banyumas .
 
Beberapa sumber mengatakan saat terjadi aksi pembubaran paksa massa aksi  secara brutal dan membabi buta, sekitar pukul 22.00.
 
Empat pewarta dari Suara Merdeka (Agus Wahyudi), Satelitpost (Aulia El Hakim), Radar Banyumas (Maulidin Wahyu) dan Metro TV (Darbe Tyas), langsung mengabadikan momen tersebut.
Sebelumnya, fotografer Suara Merdeka yang mengabadikan gambar lebih awal, mengalami kekerasan psikis  dengan dirampas alat kerjanya (foto), meskipun yang bersangkutan sudah memberitahukan dari media Suara Merdeka.
 
 
Menurut para pewarta, negara dalam hal ini kepolisian Polres Banyumas dan Satpol PP Banyumas telah melakukan pelanggaran undang-undang Pers dan Keterbukaan Informasi Publik dan sekaligus pelanggaran Hak Asasi Manusia.| Syidiq Syaiful Ardli
 
back to top