Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Sejumlah pewarta di Purwokerto mengalami kekerasan oleh aparat

Sejumlah pewarta di Purwokerto mengalami kekerasan oleh aparat
Purwokerto-KoPi| Sejumlah pewarta mengalami kekerasan yang dilakukan oleh polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja  (Satpol PP) Banyumas di Purwokerto. 
Kekerasan terjadi saat para pewarta tengah meliput pembubaran paksa aksi tolak pembangunan PLTPB Gunung Slamet di depan kantor Bupati Banyumas, Senin (9/10) malam.
 
Beberapa pewarta mengalami luka-luka dan kehilangan atau rusak alat-alat piranti meliput  akibat kebrutalan aparat polisi dan Satpol PP.
 
Salah satu wartawan Metro TV, Darbe Tyas menjadi korban kekerasan fisik, berupa pemukulan dan pengroyokan sejumlah anggota kepolisian Polres Banyumas dan Satpol PP Pemkab Banyumas .
 
Beberapa sumber mengatakan saat terjadi aksi pembubaran paksa massa aksi  secara brutal dan membabi buta, sekitar pukul 22.00.
 
Empat pewarta dari Suara Merdeka (Agus Wahyudi), Satelitpost (Aulia El Hakim), Radar Banyumas (Maulidin Wahyu) dan Metro TV (Darbe Tyas), langsung mengabadikan momen tersebut.
Sebelumnya, fotografer Suara Merdeka yang mengabadikan gambar lebih awal, mengalami kekerasan psikis  dengan dirampas alat kerjanya (foto), meskipun yang bersangkutan sudah memberitahukan dari media Suara Merdeka.
 
 
Menurut para pewarta, negara dalam hal ini kepolisian Polres Banyumas dan Satpol PP Banyumas telah melakukan pelanggaran undang-undang Pers dan Keterbukaan Informasi Publik dan sekaligus pelanggaran Hak Asasi Manusia.| Syidiq Syaiful Ardli
 
back to top