Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Rumah warna warni Kali Code belum mendapatkan dukungan Dispar DIY

Rumah warna warni Kali Code belum mendapatkan dukungan Dispar DIY

Jogja-KoPi│Rumah warna warni yang berada di bantaran Kali Code Yogyakarta belum mendapatkan dukungan dan pengembangan pariwisata dari Dinas Pariwisata (Dispar) Yogyakarta.

Rumah-rumah dengan cat warna warni yang terletak di Kampung Code Utara RT 01 RW 01, Kota Baru, Gondokusuman, Yogyakarta ini belum pernah mendapatkan pendidikan, pelatihan serta sosialisasi dari Dinas Pariwisata Yogyakarta terkait pengembangan desa wisata.

Fitri, Ketua RT 01 RW 01 Kampung Code Utara mengaku belum pernah mendapatkan dukungan, pelatihan, pendidikan serta kunjungan dari Dinas Pariwisata Yogyakarta.

Padahal menurutnya pelatihan dan pendidikan tentang pengembangan desa wisata sangat dibutuhkan oleh warga Kampung Code saat ini. Pasalnya warga belum dapat mengatur, mengelola, dan mengorganisir kampung mereka sebagai desa wisata.

“Kami belum ada retribusi, pengelolaan kami masih lemah, warga belum siap. Padahal wisatwan banyak, sudah banyak studi banding. Tapi kami belum bisa mengelola”, jelas Fitri.

Fitri juga mengatakan bahwa sosialisasi tentang desa wisata justru berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sementara Dinas Pariwisata hingga saat ini belum bergerak sama sekali untuk memberdayakan masyarakat.

“Dinas Pariwisata belum menengok, belum ada koordinasi untuk mengembangkan bersama”, jelasnya.

Ia berharap Dinas Pariwisata dapat bekerja sama untuk mengembangkan Kampung Code Utara RT 01 RW 01 sebagai desa wisata, terutama dalam mengembangkan rumah warna warni dan masyarakat yang ada di sekitarnya.

“Kami berharap dinas pariwisata dapat bekerjas sama untuk mengembangkan rumah warna warni dan memberdayakan masyarakat sekitar. Memberikan pendidikan pengelolaan sehingga kami bisa mengelola rumah warna warni sebagai desa wisata”, pungkasnya.

Terkait masalah tersebut Dispar DIY yang dihubungi KoPi belum memberikan tanggapan.

back to top