Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Ribuan massa becak motor kecewa, Sultan tak temui mereka

Ribuan massa becak motor kecewa, Sultan tak temui mereka

Jogjakarta-KoPi| Sekitar 1000 massa becak motor (betor) kecewa harapan mereka untuk bertemu dengan Gubernur DIY tidak terlaksana, Senin, 5 Oktober 2015. Pasalnya Sultan Hamengkubawono X mengaku tengah berada di luar kota.

Meski kecewa massa tetap berorasi menyuarakan aspirasinya di depan kantor Kepatihan Gubernur DIY. Massa yang tergabung dalam Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PMBY) menuntut Gubernur DIY mencabut Surat Edaran Nomor :551.2/03/ 2003 tentang pelarangan betor di DIY.

Massa tetap akan melakukan berbagai upaya maupun aksi sampai Gubernur DIY melegalkan betor untuk operasi.

"Kita terus berjuang sampai betor dilegalkan, sampai titik darah penghabisan," isi orasi massa.

Sejak tahun 2003, para pengemudi becak motor merasa kesulitan dengan adanya surat edaran Gubernur DIY tersebut. Menurut mereka, pelarangan operasi betor dipandang pelanggaran hak asasi manusia.
Salah anggota PMBY, Rujito (56) menyayangkan pelarangan operasi bagi betor. Rujito selama empat tahun ini telah menggantungkan hidup pada usaha betor. Dirinya biasa mangkal di Jalan Mangkubumi.

"Sudah hampir empat tahunan. Ya katanya dulu suruh hati-hati saja. Ternyata betor selalu dilarang operasi," tutur Rujito ketika unjuk rasa di depan kantor Kepatihan.

Rujito termasuk pengemudi becak onthel yang beralih ke becak motor. Alasan Rujito beralih karena faktor usia.

"Pakai onthel sudah gak kuat lagi, pake mesin bisa untuk jarak jauh," tutur Rujito.

Meskipun dari sisi tenaga lebih efisien, namun dari segi pendapatan hampir tidak ada perbedaan dengan becak onthel."Pendapatan sama becak onthel hampir sama, ada peningkatan sedikit," jelas Rujito. |Winda Efanur FS|

back to top