Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

PUSHAM UII : Usut tuntas kasus penggrebekan diskusi dan pameran karya Widji Tukul

PUSHAM UII : Usut tuntas kasus penggrebekan diskusi dan pameran karya Widji Tukul

Jogja-KoPi| Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (PUSHAM UII) menuntut kepolisian mengusut tuntas kasus penggrebekan diskusi dan pameran karya widji tukul setelah kemarin (8/5) sempat mendapat penggerebekan dari kelompok yang mengatasnamakan Pemuda Pancasila di PUSHAM UII.

 

Penggerebekan yang dilakukan oleh 20-25 orang terjadi pada pukul 14.10 WIB di kantor PUSHAM UII, Banguntapan, Yogyakarta, setelah sebelumnya mereka mendapatkan tamu yang mengatasnamakan Intel Polres Bantul pada pukul 10.00-12.00 WIB.

Menurut Eko Riyadi, Direktur PUSHAM UII, kelompok ormas tersebut menanyakan izin kegiatan. Namun karena kegiatan tersebut adalah kegiatan akademik maka menurut Eko tidak perlu izin.

"Diskusi adalah kegiatan akademik, sehingga tidak perlu izin. Organisasi kemasyarakatan pun tidak memiliki wewenang untuk menanyakan hal tersebut", jelasnya saat konferensi pers di kantor PUSHAM, Selasa (9/5).

Ia juga mengatakan sekelompok orang tersebut memaksa masuk dan merusak karya-karya yang dipamerkan milik Andreas Iswinarto yeng terinspirasi dari puisi Widji Tukul.

Terdapat 5 karya poster yang dibawa dari 15 poster, 1 poster rusak dan 4 puisi Widji Tukul yang dirobek.

Sementara, Adreas Iswinarto mengatakan ia sempat dicekik oleh salah satu anggota Pemuda Pancasila saat merebut kembali karya yang dirampas.

"Saya sempat dicekik saat mau mengambil kembali karya yang dirampas", jelasnya.

Tak hanya itu kelompok tersebut juga mengancam akan melakukan pembakaran di PUSHAM jika diskusi dan pameran tidak dibubarkan.

"Mereka bahkan mengatakan pameran dan diskusi ini harus bubar, jika tidak akan kami bakar semuanya", terang Eko.

Eko juga mengatakan pihaknya telah melaporkan kasus ini ke Polda DIY dan menunggu proses yang sedang berlangsung.

Menurutnya kasus penggrebekan tersebut merupakan kejahatan dan pelanggaran jaminan HAM yang tercantum dalam Pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Pasal 19 ayat (1) dan (2) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik sebagaimana telah diratifikasi dengan UU No 25 Tahun 2005, Pasal 28F UUD RI Tahun 1945, dan Pasal 14 UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Untuk itu PUSHAM menuntut aparat Kepolisian Daerah DIY untuk mengusut tuntas dan menangkap pelaku penggrebekan, meminta Gubernur DIY untuk mengawal kasus ini, serta meminta Ketua Komnas HAM untuk memperhatikan kasus tersebut.

Selain, itu juga terdapat tuntutan lain, yaitu menuntut Ketua Komisi Kepolisian Nasional untuk melakukan pemeriksaan atas lambanannya atau indikasi pembiaran oleh Kepolisian Resor Bantul, serta meminta presiden RI untuk menegakkan konstitusi dalam hal kebebasan untuk berekspresi dan berpendapat.

"Kebebasan berpendapat dan berekspresi adalah kebebasan setiap manusia", pungkasnya.

back to top