Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

PSKK UGM: Indikator pembangunan DIY tidak jelas

PSKK UGM: Indikator pembangunan DIY tidak jelas

Sleman-KoPi|Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM melihat permasalahan kemiskinan, ketimpangan sosial, berbagai permasalahan di Yogyakarta disebabkan anomali indikator yang tumpang tindih. Direktur PSKK Agus Heruanto Hadna, mengatakan anomali indikator yang dimaksud seperti ketidaksesuaian indikator antarrasio dan angka di DIY.

Seperti angka kemiskinan DIY tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) DIY sebesar 488,83 jiwa, namun angka kesejahteraan hidup dengan usia hidup sampai 70 tahun untuk warga Yogyakarta.

“Berdasarkan data dari BPS Meski angka kemiskinan DIY tertinggi dibanding angka kemiskinan di tingkat nasional, namun angka harapan hidup, dan angka kesejahteraan, dan perkembangan manusianya lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya,”ujar Agus saat jumpa pers di PSKK UGM,Senin (15/5).

Agus melihat fenomena ini merupakan salah satu gejala dimana warga DIY sedang berusaha mencapai equilibrium atau kesetaraan antarindikator. Sementara untuk penyebabnya adalah kurang berfungsinya lima pihak pembangunan kota DIY yaitu Kampung,Kantor,kampus, ditambah Kraton dan Konglomerat.

“Kami kira lima pihak ini belum ada perannya dalam membangun jogja, sehingga yang terjadi pembangunan kota Yogyakarta menjadi tidak merata seperti pembangunan fisik berjalan cepat namun pembangunan masyarakat justru berjalan lambat,”lanjutnya.

Oleh karena itu, dalam rangka peringatan HUT PSKK ke 44 pihaknya berencana untuk menggelar seminar bertemakan “Ayo mBangun Jogja” pada Selasa 16 mei 2017 untuk menemukan solusi permasalahan ini.

Pihaknya pun akan mengundang Sri Sultan Hamengkubuwono, Sri Paduka Pakualaman, Rektor terpilih UGM Panut Mulyono sebagai pembicara seminar.

Sementara itu Ketua Seminar HUT ke 44 PSKK, Henny Ekawati mengatakan Sri Sultan akan menjadi pembicara utama (keynote speech) dalam seminar ini. Secara Umum, Sri Sultan akan menyampaikan pemaparan tentang arah, gambaran, dan program-program pembangunan.

Agus pun berharap dari seminar ini agar setiap pihak bisa menemukan fungsi masing-masing demi tercapainya equilibrium.


“Harapannya dari seminar ini agar bisa menemukan fungsi sebenarnya dari 5 K dan tercapai equilibrium, ”pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top