Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Produksi padi saat ini rendah

Produksi padi saat ini rendah

Sleman – KoPi, Rendahnya produksi padi saat ini, disebabkan beberapa hal, antara lain adanya serangan organisme pengganggu tanaman, belum diterapkannya inovasi teknologi budidaya serta pemilihan benih varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim, kualitas lahan yang menurun akibat penggunaan input kimia yang berlebihan, sempitnya lahan akibat alih fungsi lahan pertanian , penguasaan teknologi oleh petani yang masih rendah.

Prof. Dr. Gunawan Somodiningrat dari UGM menyampaikan, rendahnya kualitas beras mengakibatkan prosentase rata-rata beras pecah di DIY mencapai 35 persen dari keseluruhan beras yang digiling. “Perlu adanya pembinaan intensif kepada petani untuk membuat prosentase tersebut turun hingga mencapai25 persen, bahkan bukan mustahil bisa ditekan hingga angka 15 persen,” kata Gunawan, Jum’at (2/5/2014).

Berkaitan dengan rendahnya produksi padi, belum lama ini teknologi padi istimewa dan gerakan petani cerdas diresmikan Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX di RM Limasan, Ngalangan, Ngaglik, Sleman, didampingi Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, SS, M.Hum, Kepala Dinas Pertanian DIY Ir. Sasongko, MSi, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman Ir. Widi Sutikno, MSi. 

Nama padi istimewa di Sleman, pengembangan jenis Menur (Melati dari Menoreh) dengan nama Syntia, ternyata mampu menghasilkan padi yang sudah baik kualitasnya maupun kuantitasnya. “Dan juga memiliki rasa yang enak,” jelas Gunawan Somodiningrat.

Pembangunan pertanian memegang peranan penting dalam rangka mencapaian target produksi pangan. “Sekaligus berperan daalam meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Paku Alam IX dengan menambahkan sektor pertanian juga masih merupakan sektor yang dapat menampung tenaga kerja cukup besar.

Saat ini, serapan tenaga kerja di sektor pertanian cukup potensial. Hal itu menunjukkan masih banyak ruang dari sektor pertanian yang perlu dikembangkan. Dari berbagai pengalaman pembangunan selama ini, pembangunan pertanian harus dimulai dari desa sebagai upaya menekan laju urbanisasi serta ketimpangan sosial ekonomi masyarakat, baik struktural maupun spasial.

Bagi Gunawan, pembangunan pertanian yang bersinergi dengan pembangunan wilayah pedesaan juga memiliki tujuan, untuk meningkatkan taraf kehidupan sosial dan ekonomi pada masyarakat desa.

Ditambahkan Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, SS, M.Hum, perkembangan alih fungsi lahan di kabupaten Sleman sangat tinggi. “Disebabkan adanya penjualan lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi bangunan,” terangnya.

Menurut Yuni, masyarakat jangan terlalu mudah untuk menjual sawahnya, sehingga menjadi fungsi yang lain. Ia berharap agar masyarakat menggeluti pertanian maupun perikanan, bukan hanya generasi tua saja. “Tetapi generasi muda sebaiknya menjadi motor dan pelopor dalam pertanian,” tukas Yuni.

Reporter: Affan Safani Adham

back to top