Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Sleman-kopi| Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda DIY berhasil gagalkan peredaran narkoba golongan I jenis tembakau Gorila yang berbasis di Yogyakarta. Petugas pun berhasil menyita barang bukti tembakau dengan berat 1.450 gram atau 1 Kilo 450 gram

 

Direktur Ditresnarkoba Polda DIY, Kombespol Wisnu Widarto mengatakan ketiga pengedar yang berinisial GSP, AND, dan AK sudah beroperasi dan mengedarkan tembakau gorila sejak Februari 2018. Mereka mengaku sudah mengedarkan tembakau tersebut tiga kali. Peredaran dan penjualan inipun sempat menjalar tidak hanya di Yogyakarta, namun hingga ke Malang, Bekasi, dan Semarang. 

"Mereka ini baru mulai sejak Februari 2018, dan baru menjual selama tiga kali,"jelas Wisnu saat jumpa pers di Halaman Ditresnarkoba Polda DIY, Kamis (31/5).

Tembakau Gorila ini termasuk narkoba golongan baru yang sudah sejak Januari 2017 lewat Permenkes no. 41 tahun 2017  dilarang diedarkan dan diperjual belikan. Efek penggunaan tembakau ini salah satunya pengguna menjadi histeris setelah menghisap hingga timbul rasa tertimpa benda berat di punggung. 

Berkaitan Tembakau Gorila di Yogyakarta, kronologis penangkapan dimulai saat Penyidik Ditresnarkoba menangkap GSP dengan barang bukti narkoba di salah satu kontrakan di Pondok Helmoni, Jalan Ringroad Utara, Maguwoharjo pada 26 Mei 2018.  Pelaku lainnya AND dan AK ditangkap dihari yang sama namun dilokasi yang berbeda. AND ditangkap di didepan kost dengan barang bukti tembakau Gorila ditangan seberat 105 gram ,sementara AK di Bandara Adi Sutjipto.

Rumah kontrakan di Maguwaharjo berfungsi sebagai tempat penyimpanan tembakau. Para pelaku juga memiliki rumah kontrakan lain di Sleman namun berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat pelaku menerima barang.

Sementara berkaitan dengan peredaran sendiri, barang tersebut didapatkan oleh AK dengan membeli lewat akun instagram  bernama "ROGSSS.RBM". Harga tembakau gorila pun bervariatif dengan harga per 100 gram Rp.5.000.000 (lima juta), dan perkilonya Rp. 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah). 

"Namun tersangka membeli sebanyak 2 kilogram atau seharga lima puluh juta rupiah, pelaku mendapatkan barang dari Jakarta," imbuh Wisnu.

Kemudian barang yang sudah dipesan tersebut dikirim kerumah kontrakan di Niten, Sleman. Para pelaku pun kemudian memasarkan barang tersebut lewat akun Instagram dengan alamat "PUUSTTUFF" dan dijual secara acak. 

ADN dan GSP yang berperan sebagai kurir mengirim kepada pembeli melalui jasa pengiriman JNE dan TIKI dengan memberi identitas penutup tembakau yaitu sparepart komputer.  Transaksi pembelian dan penjualan dilakukan lewat rekening bank BCA. 

Kombespol Wisnu Widarto pun tidak bisa memberitahu harga jual tembakau gorila di tangan ketiga pelaku. Namun, sudah pasti bahwa ketiga pelaku ini mendapat untung lebih dari penjualan barang-barang tersebut.

Wisnu juga belum mengetahui alasan pemilihan ketiga pelaku memilih kota Yogyakarta sebagai basis penjualan. Namun, ia menduga karena Yogyakarta memiliki banyak lokasi yang menyewakan rumah kontrakan dan kost-kostan. 

"Alasan penjualan di Yogyakarta belum kita selidik lebih lanjut, mungkin karena banyaknya kos-kosan dan kontrakan di Yogyakarta sehingga mereka punya banyak opsi untuk mencari tempat penyimpanan,"paparnya

Ketiga pelaku ini dikenai Pasal 114 ayat (2) atau pasal 112 ayat (2) Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dan peran mereka sebagai pengedar. Para pelaku ini akan dikenai hukuman penjara diatas 5 tahun penjara.

 

back to top