Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Peringati 11 Tahun Tsunami, Timang Research Center Gelar Diskusi dan Pementasan Seni

Peringati 11 Tahun Tsunami, Timang Research Center Gelar Diskusi dan Pementasan Seni

Banda Aceh-KoPi| Timang Research Center (TRC) bekerja sama dengan Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) dan Gemasastrin FKIP Unsyiah menggelar diskusi dan pementasan kebudayaan dalam rangka memperingati 11 Tahun Tsunami Aceh sekaligus memaknai Hari Gerakan Perempuan Indonesia, Sabtu (26/12), di Museum Aceh, Banda Aceh.

Kegiatan yang didukung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Aceh tersebut bertujuan untuk memperkuat gerakan kebudayaan dengan meretas politik yang beretika melalui pentingnya data yang berperspektif adil-setara. Juga berbagi informasi dan perkembangan aktual terkait persoalan yang membelitAceh terkait data yang dapat dipertanggungjawabkan untuk memperkuat landasan kebijakan.

“Selain itu, di acara ini kami memperkenalkan serta meluncurkan secara resmi Lembaga Timang Research Center (TRC) sebagai lembaga riset yang menggunakan pisau analisis gender dan metodologi feminis untuk mendukung kebijakan yang berperspektif adil-setara,” ujar Zubaidah Djohar, Penyair dan Pendiri Timang Research Center, Sabtu (26/12), di Banda Aceh.

Acara yang dikemas santai, interaktif dan bertajuk “Tafakkur Gelombang Raya; Mata Perempuan Menyibak Damai”sepertidiskusi Indonesia Lawyers Club (ILC) di salah satu stasiun televisi nasional itu, menghadirkan sejumlah narasumber.

Mereka adalah Syarifah Rahmatillah (Materi: “Perempuan dan Politik Kontemporer), Muslahuddin Daud (“Aspek Pelayanan Publik dan Sumberdaya Alam”), Zubaidah Djohar (“Penelitian tentang Perempuan dan Politik”), Saifuddin Bantasyam (“Aspek Hukum dan Keadilan Sosial”), Eka Srimulyani (“Etnografi Kemiskinan”), Reza Idria (“Sudut Pandang Sejarah dan Syariat Islam), Sri Wahyuni (Sharing Pengalaman dalam Pemilu 2009 dan 2014”), Wiratmadinata (“Aspek Kebudayaan”), Norma Manalu (“Aspek Perempuan dan Sumberdaya Alam”), dan Taqwaddin Husin (“Aspek Perdamaian dan Hukum Adat”). Acara dipandu moderator Fuad Mardhatilllah.
Di samping diskusi,juga disemarakkan dengan Pembacaan Puisi dan Musikalisasi Puisi bertema perdamaian yang dibawakan Herman RN, Nazar Syah Alam, GEmaSastrin FKIP Unsyiah, danTeater Rongsokan.

Menatap Aceh Masa Depan
Menurut Zubaidah Johar, genap sebelas tahun Aceh bangkit setelah dihadang musibah gempa dan tsunami. Kini, pembangunan Aceh tumbuh pesat. Jalan terbentang gagah, gedung-gedung mulai berdiri megah, rumah-rumah penduduk yang ikut hancur akibat tsunami satu persatu terganti indah.

Bila dilihat sekilas lalu, tambah Zubaidah, Aceh seperti tak pernah tersapu gelombang raya, lumpuh oleh kejahatan perang dan bersimbah luka-derai air mata. Aceh pelan tertata oleh dukungan banyak pihak, simpati dan kemanusiaan semua mata dunia. Perdamaian pun diikrarkan setelah konflik panjang. Dan, Nanggroe Aceh menemukan momentumnya.

“Namun, dalam rentang perjalanan damai, kita masih menemukan fakta tentang tingginya angka kekurangan gizi pada anak-anak, perempuan yang mengalami tingkat kesehatan yang buruk, paling rentan mengalami kekerasan, tertinggi mengalami kematian melahirkan, dan kelompok yang paling miskin,” paparnya.

Dia berharap, lewat diskusi yang digagas Timang Research Center (TRC) itu melahirkan gagasan-gagasan bernas untuk menatap masa depan Aceh ke arah yang lebih baik dan bermartabat. (rel)

back to top