Menu
Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun Menderita

Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun…

Kupang-KoPi| Rakyat kor...

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan Mahasiswa HI UMY ke Tiongkok

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan…

Bantul-KoPi| Nur Indah ...

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Sehat

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Seh…

Jogja-KoPi| Depresu bis...

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa Untuk Anak Desa Gamplong

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa…

Jogja-KoPi| Unit Kegiat...

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banyak Investasi India di Jatim

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banya…

New Delhi-KoPi| Gubernu...

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kota Magelang

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kot…

Magelang-KoPi| Menyambu...

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi Dilema

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi…

Bantul-KoPi| Kemerdekaa...

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA KOMPENSASI BUKAN CSR

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA …

Kupang-KoPi| Gubernur N...

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gelar Workshop dan Pelatihan Make Up

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gela…

Jogja-KoPi| Mempunyai w...

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasan Bisnis Pada Calon Startup UGM

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasa…

Jogja-KoPi| Mantan CEO ...

Prev Next

Peneliti mendeteksi tanah merekah di Yogyakarta

Peneliti mendeteksi tanah merekah di Yogyakarta

Jogja-KoPi|Dua akademisi Universitas Sarjanawiyata (UST) menemukan sejumlah titik lokasi kemungkinan terjadinya rekahan tanah di kota Yogyakarta pada masa mendatang.

Kedua peneliti , Urip Nurwijayanto Prabowo dan Sismanto , menyebutkan salah satu lokasi ada di Balai Kota memiliki kerawanan rendah untuk mengalami rekahan tanah.

"Rekahan tanah ini dipicu oleh kemiringan Bedrock atau lapisan di bawah lapisan sedimen permukaan. Morfologi bedrock ini memiliki peran penting dalam menentukan lokasi dan Geometri rekahan," papar kedua peneliti ini dalam penyampaian penelitian bersama Bappeda Kota Yogyakarta di Balaikota, ditulis pada Selasa (12/12).

Sedangkan daerah lain memiliki kerawanan tingkat sedang berada di wilayah Kec. Kotagede (Kelurahan Prenggan, Purbayan, Rejowinangun),Kec. Umbulharjo (kelurahan Sorosutan, Giwangan, Pandeyan, Tahunan, Warungboto, Semaki.

Serta bagian Selatan kelurahan Timoho), Kec. Mergangsang (Brontokusuman, Karapan, Wirogunan), Kec. Mantirejon ( Mantirejon, Suryodiningratan, bagian selatan Gedongkiwo), Kec. Keraton( Panembahan bagian selatan), Kec. Pakualaman,Kec. Gondokusuman (Baciro), Kec. Danurejan (Bausasran).

Pemicu kerekahan tanah di wilayah-wilayah ini berbeda dengan di Balaikota. Kedua Peneliti ini menemukan pemicunya adalah gempa bumi.

Sementara hasil pemetaan dari semua wilayah-wilayah ini didapat dari hasil pengukuran mikrotremor. Mikrotremor ini merupakan getaran konstan di permukaan bumi selain gempa bumi.

"Sumber mikrotremor berasal dari aktivitas manusia dan fenomena alam,"tambahnya.

Urip dan Sismanto menjelaskan gempa bumi disejumlah wilayah kota ini tak hanya menimbulkan rekahan tanah namun juga penurunan tanah khususnya muka air tanah.

Lebih lanjut ,muka air tanah yang menurun secara berkelanjutan ini menyebabkan penurunan muka tanah ini akibat pemapatan/kompaksasi lapisan sedimen permukaan lunak. Hasil akhirnya adalah kemungkinan munculnya rekahan tanah disejumlah wilayah.

Kedua peneliti ini pun menuturkan penyebab turunnya muka air tanah ini akibat pengambilan air tanah secara konsumtif dan besar. Serta posisi kota Yogyakarta yang berdekatan dengan pertemuan antara lempeng Eurasia dan lempeng Hindia Australia membuat wilayah ini rawan bencana Gempabumi.

"Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang pesat di Kota Yogyakarta membuat kebutuhan air tanah meningkat sehingga mengakibatkan penurunan permukaan air tanah di beberapa wilayah yang dapat menimbulkan dampak berupa penurunan tanah,"tuturnya.

Pada akhir penilitiannya ,Urip dan Sismanto menyarankan sejumlah masukkan untuk langkah mitigasi bencana kepada berbagai lembaga dan dinas terkait untuk mengatasi kemungkinan terjadinya rekahan tanah di kemudian hari.

Masukkan sendiri berupa langkah pengawasan atau monitoring mendalam di Kota Yogyakarta. Pertama, pihak terkait diminta memonitor tingkat pembebanan bangunan pada tanah.

Kedua, pihak terkait diminta memonitor pula tingkat degradasi muka air tanah. Terakhir,saran monitoring penurunan tanah bisa menggunakan data GPS.| Syidiq Syaiful Ardli

back to top