Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

Sleman-KoPi|Koalisi Masyarakat Peduli Madrasah(KMPM)Pengurus Cabang Nadlatul Ulama (PCNU) Sleman bersama puluhan organisasi cabang NU, PMII,Banser ,Pagar Nusa gelar aksi penolakan Full Day School (FDS) di depan Kantor Bupati Sleman,Selasa (15/8).

Aksi yang diikuti 300an anggota cabang NU,Siswa madrasah maarif NU,dan gerakan pemuda ansor ini menyatakan menolak dengan tegas Peraturan mendikbud no. 23 tahun 2017 tentang hari sekolah. Menurut KMPM,terbitnya Permen ini nantinya akan membatasi ruang madrasah diniyah di Indonesia.

"Aksi ini menyikapi terbitnya permendikbud yang nantinya akan mempersempit ruang madrasah diniyah,"ujar Abdul Muiz,Ketua lembaga perekonomian PCNU sekaligus Kader Ansor Kab. Sleman.

Madrasah diniyah yang memberlakukan jam pelajaran agama dari pukul 2 siang hingga setengah 5 sore ini dipastikan akan hilang jika Permendikbud berlaku. Padahal ,Jelas Muiz, Madrasah Diniyah ini merupakan sekolah yang melahirkan pemimpin besar seperti KH. Hasyim Anshari dan KH Ahmad Dahlan.

"Madrasah diniyah selama ini sudah mendidik pemimpin besar seperti mbah hasyim ansari dan mbah ahmad dahlan, dan mereka ini tokoh yang mampu mendidik anak bangsa kita,"ucapnya

Lebih lanjut ia pun mengkhawatirkan nasib jutaan siswa madrasah diniyah yang tidak bisa mengikuti pembelajaran agama karena penerapan FDS. Menurutnya, dari Madrasah inilah,Siswa bisa mendapatkan ilmu agama dan penguatan karakter tanpa perlu berlama-lama belajar di Sekolah.

Mendukung statement Menag beberapa hari lalu, Muiz mengatakan bahwa pembentukan karakter tidak bisa dibentuk lewat lamanya jam belajar dibangku Sekolah. Tak hanya itu, ia juga mengatakan infrastruktur dan guru di Indonesia belum siap memberlakukan 8 jam sekolah.

" Karakter bangsa ini tidak bisa dibentuk lewat bangku sekolah,infrastruktur dan guru kita belum mencukupi,"lanjutnya.

Untuk saat ini presiden Jokowi sudah mengeluarkan peraturan Presiden (Perpres) yang menunjukkan bahwa kebijakan Full day school bersifat optional atau hanya pilihan. Namun demikian , PCNU menolak pula Perpres ini.

Abdul Muiz menjelaskan alasan kekhawatirannya pada sekolah madrasah yang tidak memberlakukan Full day akan mendapat perlakuan berbeda.

"kekhawatirannya adalah pada sekolah yang tidak memberlakukan FDS akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dibandingkan sekolah yang memberlakukan FDS, kami khawatir nantinya akan mempengaruhi kategori penilaian sekolah,"jelasnya

Dalam aksi ini, Pihaknya bersama PCNU meminta kepada Pemerintah Kab. Sleman untuk tidak memberlakukan Permendikbud ke sekolah -sekolah di Sleman. Kepada Presiden, Muiz berharap Presiden segera mencabut permendikbud FDS tersebut untuk menyelamatkan Madrasah Diniyah di Indonesia.

"Kami mohon pada bapak jokowi untuk membatalkan Permendibud,karena yang bisa membatalkan hanya presiden saja. Selama ini madrasah dininyah yang tidak pernah diopeni (diurus) oleh negara, tiba-tiba saja diberangus oleh permendibud, "Pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top