Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pameran karya Widji Tukul sudah dua kali jadi sasaran penggrebekan

Pameran karya Widji Tukul sudah dua kali jadi sasaran penggrebekan

Jogja-KoPi| Pameran karya Widji Tukul telah dua kali jadi sasaran penggrebekan dan perusakan dari organisasi masyarakat yang menduga Widji Tukul sebagai komunis.

Andreas Iswanto, pelukis karya Widji Tukul yang melakukan pameran di PUSHAM UII mengatakan pameran karya Widji Tukul telah mengalami penyerangan sebanyak dua kali.

"Pertama penyerangan terjadi di Semarang oleh ormas juga, ada tekanan dari berbagai pihak, dan sekarang adalah yang kedua", terangnya.

Menurutnya karya Widji Tukul menjadi sasaran tembak dari berbagai organisasi masyarakat yang mengira Widji Tukul sebagai komunis.

Padahal menurutnya Widji Tukul justru memperjuangkan hak buruh dan kaum tertindas.

"Kasus ini samam, mengatakan Widji Tukul sebagai komunis. Padahal kata-kata yang digunakan Widji Tukul sebagai senjata merupakan bentuk perjuangan kaum buruh dan dirinya sendiri", jelasnya.

Di sisi lain, pameran ini adalah pameran keliling yang telah berlangsung 2-3 tahun yang lalu.

"Ini pameran keliling yang sudah berlangsung 2-3 tahun yang lalu di Malang, Trenggalek, Solo, Bandung, Jakarta, Kerawang, Semarang, dan Jogja", jelas Andreas.

Andreas bertekad tetap akan melanjutkan pameran ini di Jogja dan kota-kota lainnya.

"Tetap akan melanjutkan pameran, karena puisi Widji Tukul masih relevan dengan keadaan sekarang. Kalau berhenti nanti malah membuat kaum intoleran dan reaksioner merasa menang", tutupnya.

back to top