Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pameran karya Widji Tukul sudah dua kali jadi sasaran penggrebekan

Pameran karya Widji Tukul sudah dua kali jadi sasaran penggrebekan

Jogja-KoPi| Pameran karya Widji Tukul telah dua kali jadi sasaran penggrebekan dan perusakan dari organisasi masyarakat yang menduga Widji Tukul sebagai komunis.

Andreas Iswanto, pelukis karya Widji Tukul yang melakukan pameran di PUSHAM UII mengatakan pameran karya Widji Tukul telah mengalami penyerangan sebanyak dua kali.

"Pertama penyerangan terjadi di Semarang oleh ormas juga, ada tekanan dari berbagai pihak, dan sekarang adalah yang kedua", terangnya.

Menurutnya karya Widji Tukul menjadi sasaran tembak dari berbagai organisasi masyarakat yang mengira Widji Tukul sebagai komunis.

Padahal menurutnya Widji Tukul justru memperjuangkan hak buruh dan kaum tertindas.

"Kasus ini samam, mengatakan Widji Tukul sebagai komunis. Padahal kata-kata yang digunakan Widji Tukul sebagai senjata merupakan bentuk perjuangan kaum buruh dan dirinya sendiri", jelasnya.

Di sisi lain, pameran ini adalah pameran keliling yang telah berlangsung 2-3 tahun yang lalu.

"Ini pameran keliling yang sudah berlangsung 2-3 tahun yang lalu di Malang, Trenggalek, Solo, Bandung, Jakarta, Kerawang, Semarang, dan Jogja", jelas Andreas.

Andreas bertekad tetap akan melanjutkan pameran ini di Jogja dan kota-kota lainnya.

"Tetap akan melanjutkan pameran, karena puisi Widji Tukul masih relevan dengan keadaan sekarang. Kalau berhenti nanti malah membuat kaum intoleran dan reaksioner merasa menang", tutupnya.

back to top