Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Pameran karya Widji Tukul sudah dua kali jadi sasaran penggrebekan

Pameran karya Widji Tukul sudah dua kali jadi sasaran penggrebekan

Jogja-KoPi| Pameran karya Widji Tukul telah dua kali jadi sasaran penggrebekan dan perusakan dari organisasi masyarakat yang menduga Widji Tukul sebagai komunis.

Andreas Iswanto, pelukis karya Widji Tukul yang melakukan pameran di PUSHAM UII mengatakan pameran karya Widji Tukul telah mengalami penyerangan sebanyak dua kali.

"Pertama penyerangan terjadi di Semarang oleh ormas juga, ada tekanan dari berbagai pihak, dan sekarang adalah yang kedua", terangnya.

Menurutnya karya Widji Tukul menjadi sasaran tembak dari berbagai organisasi masyarakat yang mengira Widji Tukul sebagai komunis.

Padahal menurutnya Widji Tukul justru memperjuangkan hak buruh dan kaum tertindas.

"Kasus ini samam, mengatakan Widji Tukul sebagai komunis. Padahal kata-kata yang digunakan Widji Tukul sebagai senjata merupakan bentuk perjuangan kaum buruh dan dirinya sendiri", jelasnya.

Di sisi lain, pameran ini adalah pameran keliling yang telah berlangsung 2-3 tahun yang lalu.

"Ini pameran keliling yang sudah berlangsung 2-3 tahun yang lalu di Malang, Trenggalek, Solo, Bandung, Jakarta, Kerawang, Semarang, dan Jogja", jelas Andreas.

Andreas bertekad tetap akan melanjutkan pameran ini di Jogja dan kota-kota lainnya.

"Tetap akan melanjutkan pameran, karena puisi Widji Tukul masih relevan dengan keadaan sekarang. Kalau berhenti nanti malah membuat kaum intoleran dan reaksioner merasa menang", tutupnya.

back to top