Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Pameran karya Widji Tukul sudah dua kali jadi sasaran penggrebekan

Pameran karya Widji Tukul sudah dua kali jadi sasaran penggrebekan

Jogja-KoPi| Pameran karya Widji Tukul telah dua kali jadi sasaran penggrebekan dan perusakan dari organisasi masyarakat yang menduga Widji Tukul sebagai komunis.

Andreas Iswanto, pelukis karya Widji Tukul yang melakukan pameran di PUSHAM UII mengatakan pameran karya Widji Tukul telah mengalami penyerangan sebanyak dua kali.

"Pertama penyerangan terjadi di Semarang oleh ormas juga, ada tekanan dari berbagai pihak, dan sekarang adalah yang kedua", terangnya.

Menurutnya karya Widji Tukul menjadi sasaran tembak dari berbagai organisasi masyarakat yang mengira Widji Tukul sebagai komunis.

Padahal menurutnya Widji Tukul justru memperjuangkan hak buruh dan kaum tertindas.

"Kasus ini samam, mengatakan Widji Tukul sebagai komunis. Padahal kata-kata yang digunakan Widji Tukul sebagai senjata merupakan bentuk perjuangan kaum buruh dan dirinya sendiri", jelasnya.

Di sisi lain, pameran ini adalah pameran keliling yang telah berlangsung 2-3 tahun yang lalu.

"Ini pameran keliling yang sudah berlangsung 2-3 tahun yang lalu di Malang, Trenggalek, Solo, Bandung, Jakarta, Kerawang, Semarang, dan Jogja", jelas Andreas.

Andreas bertekad tetap akan melanjutkan pameran ini di Jogja dan kota-kota lainnya.

"Tetap akan melanjutkan pameran, karena puisi Widji Tukul masih relevan dengan keadaan sekarang. Kalau berhenti nanti malah membuat kaum intoleran dan reaksioner merasa menang", tutupnya.

back to top