Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pakar UGM: Pemindahan Ibukota hanya memboroskan APBN

Pakar UGM: Pemindahan Ibukota hanya memboroskan APBN
Sleman-KoPi|Pakar Ekonomi UGM ,sekaligus kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM, A. Tony Prasetiantono mengatakan wacana pemindahan ibu kota ke Kalimantan sebaiknya tidak perlu dilakukan.
 
Pasalnya ,ia memaparkan wacana pemindahan ibukota saat ini tidak sesuai dengan kondisi indonesia yang sedang mengalami tekanan fiskal.  Pemindahan ibukota ini dinilainya sebagai wacana yang paling banyak menghabiskan anggaran pendapatan belanja negara indonesia (APBN). 
 
"Pasalnya Indonesia saat ini mengalami tekanan fiskal ,sehingga tidak realistis dan hanya menambah beban APBN,"katanya saat mengisi Seminar 'Pembangunan Infrastruktur Indonesia'di UGM, Senin (17/7).
 
Tony menerangkan pembangunan ibukota ini menghabiskan sedikitnya dana  Rp 500 triliun. Perbandingan penggunaan dana ini dengan pembangunan kota lippo group, Melkara di Bekasi dengan dana Rp 278 triliun. 
 
Ia pun menyarankan anggaran dan energi pembangunan ini sebaiknya dialihkan ke pembangunan infrastruktur seperti yang dicanangkan pemerintah saat ini.
 
"Contohnya anggaran pembangunan bisa terfokus pembangunan lintas sumatera ,kereta Cepat skala menengah Jakarta-Surabaya,kereta api di kalimantan dan sulawesi ,"tuturnya.
 
Ia pun menambahkan jika proyek-proyek ini kelak berhasil ,maka pemerataan distribusi pembangunan akan terwujud pula secara otomatis.
 
Gelombang migrasi ke jakarta juga nantinya bisa diredam karena pusat pertumbuhan ekonomi kian menyebar di seluruh penjuru negeri.
 
"Kalaupun kita mempunyai dana 500 triliun untuk membangun ibukota ,dananya sebaiknya untuk pembangunan di berbagai penjuru tanah air. Sebagian juga perlu digunakan untuk membangun MRT lanjutan di jakarta ,LRT dan seterusnya," tandasnya.| Syidiq Syaiful Ardli
 
 
back to top