Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Merapi Meletus Freatik, Kepala PSBA: Ibarat Air Bersentuhan Dengan Minyak Panas

Sleman-KoPi|Gunung Merapi pada Jumat pagi (11/5) kembali aktif dengan mengeluarkan asap disertai debu vulkanik. Bahkan sebaran debu hampir mencapai kota Yogyakarta. Kepala Pusat Studi bencanaAlam (PSBA) UGM Dr. Djati Mardiatno, M.Si, mengatakan letusan gunung merapi kali ini merupakan erupsi freatik dimana terjadinya kontak antara magma dengan air yang menyebabkan keluarnya asap menyembur keluar melalui kolom menuju puncak merapi, namun begitu status Merapi masih normal.  

 

“Jadi ada air yang berkontak dengan magma, mirip seperti air yang dimasukkan dalam wajan yang berisi minyak goreng tengah panas, muncul percikan,” kata Djati kepada wartawan pasca letusan gunung Merapi, Jumat (11/5).

Djati menilai kontak antara air dengan magma disebabkan adanya retakan baru pada kawah yang menyebabkan air tanah masuk ke dalam magma. Namun begitu, adanya retakan tersebut menurutnya proses alami karena aktivitas magma merapi yang selalu aktif. “Kasus Merapi mengalami letusan freatik ini pernah terjadi sebelumnya,” katanya.

Kepulan asap yang keluar dari puncak merapi tidak hanya mengeluarkan uap air namun juga membawa pasir dan debu. Sebaran debu pun menurutnya akan menyebar menyesuaikan dengan arah angin berhembus. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak panik dan menggunakan masker selama hujan abu vulkanik masih berlangsung. 

“Bukan sekedar debu, abu vulkanik itu mengandung silika (Bahan baku kaca) sehingga apabila terhirup dan kena mata akan menyebabkan iritasi,” kata Djati.

Meski Merapi sering mengalami letusan Freatik namun Djati menilai bukan berarti akan terjadi letusan yang lebih besar. Menurutnya sepanjang aktivitas magma tidak keluar melalui puncak hal tersebut tidak akan terjadi erupsi dalam skala besar.

Sehubungan dengan letusan Merapi kali ini, Djati mengharapkan pemerintah melalui BPBD tetap melakukan upaya penanggulangan dampak bencana sesuai dengan prosedur yang biasa dilakukan, yakni mengungsikan warga yang dinilai kemungkinan terkena dampak. Selanjutnya mengupayakan tidak adanya proses pendakian selama erupsi masih berlangsung. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top