Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Menaikkan klaim BPJS, motivasi menaikkan akreditasi rumah sakit

Menaikkan klaim BPJS, motivasi menaikkan akreditasi rumah sakit

“Fokus Rumah sakit, saya rasa, kali ini sudah bergeser, bukan karena motivasi untuk meningkatkan mutu standar dan pelayanan tapi untuk meningkatkan klaim akan BPJS atau JKN,” ungkap Niluh Putu Eka Andayani, SKM.M.Kes, saat diskusi Refleksi 2015 dan Outlook Kebijakan dan Manajemen Kesehatan 2016, Rabu (30/12).

Jogja-KoPi│ Terdapat banyak aspek yang belum tersentuh oleh rumah sakit, terutama dalam hal managemen dan sumber daya untuk menata pelayanan yang baik sehingga memberikan value pada rumah sakit tersebut. Namun, rumah sakit lebih condong dan fokus dalam mengurusi claimnya. Bagaimana claim tersebut terpenuhi, terbayarkan, pedapatan rumah sakit tidak menurun dan berkurang dengan adanya pasien BPJS atau JKN terutama yang pasien PBI.

“Fokusnya telah berubah bukan kepada bagaimana meningkatkan pelayanan tapi lebih fokus pada bagaimana cara menggali dana dan pendapatan sebesar-besarnya,” jelas Niluh Putu Eka Andayani.

Hal ini terlihat dari banyaknya Rumah sakit kelas C yang ramai-ramai naik ke kelas B , bukan karena termotivasi untuk meningkatkan mutu standar dan pelayanan, tetapi lebih pada klaim. Menurut, Niluh Putu Eka Andayani, hal tersebut terjadi karena tarif klaim kelas B lebih tinggi dibanding kelas C. Namun, peningkatan akreditasi tersebut tanpa memperhatikan bahwa kelas B memiliki standar yang lebih tinggi.

Namun, dengan munculnya Kemenkes tahun 2012 tentang perizinan rumah sakit menjadi salah satu penolong dalam akreditasi rumah sakit ini.

“Dalam Kemenkes 2012 ini rumah sakit harus memenuhi standar dan baru bisa kelasnya ditetapkan, kalau dulu kan kelasnya dulu baru standarnya, standar digunakan sebagai sesuatu yang harus dicapai atau target,” tambah Niluh Putu Eka Andayani.

Selain itu Niluh Putu Eka Andayani berharap pada tahun 2016 fokus rumah sakit tidak hanya dalam mengurusi klaim, tapi lebih pada perbaikan aspek kewajiban utama rumah sakit dalam melayani masyarakat sesuai dengan standar savety. Menurutnya, rumah sakit harus memandang kebutuhan masyarakat tanpa memandang kasus mana yang klaimnya tinggi, serta membangun tim yang multidisiplin yang dapat bekerjasama dan berkoordinasi dengan tim lain. │Frenda Yentin│Winda Efa Nur

back to top