Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Melestarikan situs Warungboto Yogyakarta

Melestarikan situs Warungboto Yogyakarta

Jogja-KoPi| Melalui festival kesenian tradisional, Dinas Kebudayaan Yogyakarta mengajak masyarakat agar menjaga situs bersejarah Warungboto. Ajakan itu disampaikan dalam sosialisasi Festival Adhiluhung Warung Boto, Yogyakarta, Sabtu (24/2).

Dinas kebudayaan mengingatkan agar selalu menjaga dan melestarikan situs Warungboto. Berdasarkan sejarah,situs Warungboto ini sudah ada sejak zaman Hamengkubuwono I yang berfungsi sebagai tempat istirahat raja. Situs ini berada di Jalan Veteran, Umbulharjo, Yogyakarta.

Beberapa upaya pun telah dilakukan seperti sosialisasi mengundang warga dan menggandeng Komunitas Tuk Umbul Warungboto dengan menggelar festival kesenian tradisional festival Adiluhung Bangun Tulak.

Menurut Bambang Marsamtoro dari Kasi Sejarah, festival ini sudah berlangsung empat kali dengan tema yang berbeda-beda. Bambang Marsamtoro mengatakan tujuan dari festival selain menjaga sekaligus melestarikan situs Warungboto.

Sementara itu, Ferian Fembriansah, koordinator Komunitas Warungboto menjelaskan tema festival tahun ini mengikuti konsep burung tulak yang berwarna hitam putih yang menggambarkan kehidupan. Masyarakat seolah diajak untuk membangun 'tulak' yang merupakan syarat hidup dan selamat di dunia ini.

Festival ini diadakan pada Sabtu tanggal 25 Februari 2017 bertempat di situs Warungboto. Nantinya festival ini akan diisi dengan pementasan tradisional seperti geguritan, tari tradisional, angklung, dan banyak lagi.

Selain itu juga terapat dialog dari berbagai pihak seperti pihak keraton, Pakualaman, Muhammadiyah, dinas kebudayaan. Festival ini diadakan dua sesi, sesi pertama pukul 15.30-17.30,dan malam pukul 19.00-24.00.
Ferian Fembriansah mengajak masyarakat untuk mengikuti event agar dapat berpartisipasi dalam menjaga situs Warungboto.
"Festival gratis dan tidak dipungut biaya sepeserpun,"pungkasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top