Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga duduki rektorat semalam

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga duduki rektorat semalam

Jogjakarta-KoPi| Bagai bom waktu yang terus berjalan, akhirnya persoalan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) UIN Sunan Kalijaga mencapai klimaksnya. Peristiwa klimaks ditandai dengan aksi pada hari Kamis (15/10).  Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (AMUK) dan Gerakan Nasional Pelajar (GNP) melakukan aksi unjuk rasa hingga bertindak anarkis. Bahkan massa sempat menduduki rektorat UIN Sunan Kalijaga selama semalam.

Menurut koordinator aksi, Multazam perjuangan mahasiswa menyoal sistem UKT ini berlangsung sejak lama. Bahkan sejak pertama kali UIN Sunan Kalijaga (UIN SuKA) mengeluarkan kebijakan UKT pada tahun 2013. Multazam menilai ada kejanggalan dalam pelaksanaan sistem UKT di UIN SuKa. 

Penerapan sistem UKT di UIN Suka berdasarkan amanah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 55 tahun 2013. Garis besar Permendikbud ini menggolongkan sistem pembayaran kuliah pada lima golongan. Sementara UIN Suka menerapkan tiga golongan berupa golongan 1, 2 dan 3.

“Lingkup Permendikbud ada lima golongan, karena UIN di bawah PTAIN jadi tiga golongan. Di UIN semua jurusan beda harga golongannya, beda Ushuluddin beda dengan Saintek yang ada praktikum. Misal di Fakultas Adab, golongan 1 sekitar Rp 0-Rp 400.000 sama semua fakultas, golongan 2 sekitar Rp 400 ribu-Rp 950 ribu dan golongan 3 sekitar Rp 1,25 juta, ini beda dengan Fakultas Tarbiyah dan Dakwah,” jelas Multazam saat ditemui KoranOpini.com.

Lambat laun seiring bergantinya tahun pembayaran UKT semakin mahal. Seperti kenaikan golongan 2 menjadi Rp 2 juta bahkan Fakultas Saintek mencapai Rp 6 juta. Selain itu sistem administrasi golongan di UIN Suka belum memiliki kejelasan.

 “Persoalan golongan tergantung pada data yang masuk, kasus dua kakak dan beradik mahasiswa baru tahun 2015 Fakultas Dakwah, seharusnya datanya sama karena dari orang tua yang sama, gajinya sama, PBB-nya sama, tapi yang adiknya golongan 3, kakaknya golongan 2, ini lucu,” tambah Multazam.

Multazam menganggap kasus tersebut membuka celah, ketidakadilan pembayaran UKT di UIN. Mahasiswa miskin bisa masuk golongan kaya dan sebaliknya. “Sehingga kita harus membongkar ini. Kita berbicara tentang pembayaran yang berkeadilan, yang harusnya golongan 2, ya golongan 2.”

Sementara ketika pihak KoranOpini. com berusaha mengkonfirmasi pihak Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan UIN SuKa, Ruhaini tidak bisa dihubingi.

back to top