Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga duduki rektorat semalam

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga duduki rektorat semalam

Jogjakarta-KoPi| Bagai bom waktu yang terus berjalan, akhirnya persoalan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) UIN Sunan Kalijaga mencapai klimaksnya. Peristiwa klimaks ditandai dengan aksi pada hari Kamis (15/10).  Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (AMUK) dan Gerakan Nasional Pelajar (GNP) melakukan aksi unjuk rasa hingga bertindak anarkis. Bahkan massa sempat menduduki rektorat UIN Sunan Kalijaga selama semalam.

Menurut koordinator aksi, Multazam perjuangan mahasiswa menyoal sistem UKT ini berlangsung sejak lama. Bahkan sejak pertama kali UIN Sunan Kalijaga (UIN SuKA) mengeluarkan kebijakan UKT pada tahun 2013. Multazam menilai ada kejanggalan dalam pelaksanaan sistem UKT di UIN SuKa. 

Penerapan sistem UKT di UIN Suka berdasarkan amanah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 55 tahun 2013. Garis besar Permendikbud ini menggolongkan sistem pembayaran kuliah pada lima golongan. Sementara UIN Suka menerapkan tiga golongan berupa golongan 1, 2 dan 3.

“Lingkup Permendikbud ada lima golongan, karena UIN di bawah PTAIN jadi tiga golongan. Di UIN semua jurusan beda harga golongannya, beda Ushuluddin beda dengan Saintek yang ada praktikum. Misal di Fakultas Adab, golongan 1 sekitar Rp 0-Rp 400.000 sama semua fakultas, golongan 2 sekitar Rp 400 ribu-Rp 950 ribu dan golongan 3 sekitar Rp 1,25 juta, ini beda dengan Fakultas Tarbiyah dan Dakwah,” jelas Multazam saat ditemui KoranOpini.com.

Lambat laun seiring bergantinya tahun pembayaran UKT semakin mahal. Seperti kenaikan golongan 2 menjadi Rp 2 juta bahkan Fakultas Saintek mencapai Rp 6 juta. Selain itu sistem administrasi golongan di UIN Suka belum memiliki kejelasan.

 “Persoalan golongan tergantung pada data yang masuk, kasus dua kakak dan beradik mahasiswa baru tahun 2015 Fakultas Dakwah, seharusnya datanya sama karena dari orang tua yang sama, gajinya sama, PBB-nya sama, tapi yang adiknya golongan 3, kakaknya golongan 2, ini lucu,” tambah Multazam.

Multazam menganggap kasus tersebut membuka celah, ketidakadilan pembayaran UKT di UIN. Mahasiswa miskin bisa masuk golongan kaya dan sebaliknya. “Sehingga kita harus membongkar ini. Kita berbicara tentang pembayaran yang berkeadilan, yang harusnya golongan 2, ya golongan 2.”

Sementara ketika pihak KoranOpini. com berusaha mengkonfirmasi pihak Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan UIN SuKa, Ruhaini tidak bisa dihubingi.

back to top