Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

LPSK RI akan beri perlindungan 34 korban diksar Mapala Unisi

LPSK RI akan beri perlindungan 34 korban diksar Mapala Unisi

Sleman-KoPi| Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI akan berikan perlindungan pada 34 Korban Diksar MAPALA UNISI sebagai saksi, Selasa (31/1). Kedatangan LPSK di Universitas Islam Indonesia atas permohonan Rektor UII dan menjadi tanda akan diberikannya perlindungan kepada 34 korban yang menjadi saksi.

 

"Rektor UII mengajukan permohonan ke LPSK RI untuk 34 orang mahasiswa yang berstatus sebagai saksi, 34 orang ini nantinya diharapkan menjadi saksi proses hukum yg berjalan," jelas Askari Razak, Wakil Ketua LPSK RI.

Namun hingga saat ini, LPSK sendiri masih dalam proses melakukan investigasi dan assessment kepada calon atau pemohon sebagai syarat diberikannya permohonan perlindungan pada korban.

"Setelah semua hasil investigasi secara formalities memenuhi syarat, makasih permohonan itu tidak ada alasan untuk diberikannya. Namun, jika ada beberapa syarat yang tidak terpenuhi, makasih nanti akan kami komunikasikan sehingga tetap ada perlindungan dari LPSK," jelas Askari Razak.

LPSK selama dua hari ini berusaha mengumpulkan informasi baik dari kepolisian, rumah sakit, ataupun UII sebelum akhirnya memutuskan untuk memberikan perlindungan pada 34 korban.

"Jarak antara formasi penyusunan sampai pengeluaran risalah itu maksimal 30 hari. Kalau bisa satu minggu, kenapa harus lama," kata Askari Razak.

Sementara itu dalam memberikan perlindungan LPSK tidak hanya memberikan perlindungan secara fisik, namun juga memberikan hak-hak dan kewajiban pemohon sesuai dengan perundang-undangan. Azkari Razak menjelaskan bahwa LPSK memberikan rasa aman Dan nyaman bagi sanksi.

"Ada berbagai macam bentuk perlindungan, ada perlindungan fisik, pendampingan saat di kepolisian hingga saat proses hukum pengawas, perlindungan hukum dalam procedural, serta bantuan psikologis saat korban mengalami traumatik", tambahnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top