Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

LIPI pastikan Bandara Baru Yogyakarta sangat rawan Tsunami

LIPI pastikan Bandara Baru Yogyakarta sangat rawan  Tsunami

Sleman-KoPi|Kepala Pusat Penelitian Geo Tsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto memastikan bahwa lokasi bandara Baru sangat rawan terhadap bencana Gempa Bumi dan Tsunami.

Hal tersebut ia sampaikan berdasarkan penelitian pihaknya yang melihat tanah di Pulau Jawa bersifat labil dan kurang kokoh dibandingkan pulau lainnya di Nusantara. Hal ini juga yang membuat guncangan gempa lebih terasa dan bisa merusak bangunan lebih cepat dibandingkan daerah lain.

"Saat gempa Bantul 2006, skala gempanya 5,9 Richter dan terjadi kurang dari 50 detik tetapi efeknya besar dan menelan korban jiwa 6 ribuan. Sementara gempa di Bengkulu skala 8 Richter hanya menelan korban jiwa 3 orang. Maka ini(gempa di pulau Jawa) sangat mencemaskan," jelasnya disela-sela seminar ‘Potensi bencana tsunai dan Gempa pada Bandara Baru Kulon Progo serta mitigasinya' di UGM Selasa (29/8).

Tak hanya itu,ancaman tsunami juga setidaknya membayangi pada bandara yang diperkirakan selesai pada tahun 2019 ini. Pasalnya,tim ekspedisi LIPI juga menemukan deposit tsunami (Paleotsunami) di beberapa tempat sepanjang Pantai selatan.

Temuan ini mengkonfirmasi bahwa peristiwa tsunami raksasa pernah terjadi ratusan tahun lalu. Ini juga yang mengindikasikan bahwa saat ini dan dimasa mendatang potensi resiko bencana Tsunami di sepanjang pantai selatan termasuk bandara baru adalah tinggi.

Melihat adanyan temuan, kepala Geo Tsunami ini meminta kepada Pemerintah DIY untuk menganalisis resiko bencana yang dapat terjadi di bandara Baru.

"Analisis risko bencana yakni menghitung risiko apa saja yang akan terjadi jika ada bencana,semisal jika ada tsunami yang sangat dasyat, berapa bangunan yang rusak, kemana warga harus mengevakuasi diri?, berapa lama waktu evakuasi warga disekitar pantai?, berapa korban yang akan terkena dampak dan lainnya?," tuturnya.

Tak hanya itu, Eko pun menghimbau pemerintah agar membuat mitigasi yang cukup pada dua bencana berpotensial tersebut. Pada Gempa,Pemerintah diminta untuk bangunan tahan gempa hingga tingkat kekuatan tertentu,membangun ruang aman tahan terhadap hantaman bangunan lainnya serta menentukan jalur evakuasi.

Sementara tsunami, mitigasi bencana perlu memperhitungkan kemungkinan ketinggian gelombang tsunami, membuat hutan cemara laut serta membiarkan gumuk pasir dikawasan pantai untuk menahan laju tsunami dan memberi pelatihan evakuasi tsunami pada warga disekitar pantai.

Semua langkah ini dirasanya sangat penting dilakukan jika memang bandara akan berdiri dikawasan tersebut. Namun demikian ia mengungkapkan hal ini bukan berarti sebagai usaha untuk menghalang-halangi langkah pembangunan infrastruktur pemerintah.

Karena ia mengetahui betul bahwa pembangunan bandara ini bukan pembangunan fisik belaka namun demi membangun kesejahteraan masyarakat.

"Hanya saja Analisis risiko bencana diperlukan untuk mengurangi dampak yang timbul serta menekan jumlah korban jiwa saat terjadi bencana Tsunami ataupun gempa,"pungkasnya.| Syidiq Syaiful Ardli

back to top