Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

LIPI pastikan Bandara Baru Yogyakarta sangat rawan Tsunami

LIPI pastikan Bandara Baru Yogyakarta sangat rawan  Tsunami

Sleman-KoPi|Kepala Pusat Penelitian Geo Tsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto memastikan bahwa lokasi bandara Baru sangat rawan terhadap bencana Gempa Bumi dan Tsunami.

Hal tersebut ia sampaikan berdasarkan penelitian pihaknya yang melihat tanah di Pulau Jawa bersifat labil dan kurang kokoh dibandingkan pulau lainnya di Nusantara. Hal ini juga yang membuat guncangan gempa lebih terasa dan bisa merusak bangunan lebih cepat dibandingkan daerah lain.

"Saat gempa Bantul 2006, skala gempanya 5,9 Richter dan terjadi kurang dari 50 detik tetapi efeknya besar dan menelan korban jiwa 6 ribuan. Sementara gempa di Bengkulu skala 8 Richter hanya menelan korban jiwa 3 orang. Maka ini(gempa di pulau Jawa) sangat mencemaskan," jelasnya disela-sela seminar ‘Potensi bencana tsunai dan Gempa pada Bandara Baru Kulon Progo serta mitigasinya' di UGM Selasa (29/8).

Tak hanya itu,ancaman tsunami juga setidaknya membayangi pada bandara yang diperkirakan selesai pada tahun 2019 ini. Pasalnya,tim ekspedisi LIPI juga menemukan deposit tsunami (Paleotsunami) di beberapa tempat sepanjang Pantai selatan.

Temuan ini mengkonfirmasi bahwa peristiwa tsunami raksasa pernah terjadi ratusan tahun lalu. Ini juga yang mengindikasikan bahwa saat ini dan dimasa mendatang potensi resiko bencana Tsunami di sepanjang pantai selatan termasuk bandara baru adalah tinggi.

Melihat adanyan temuan, kepala Geo Tsunami ini meminta kepada Pemerintah DIY untuk menganalisis resiko bencana yang dapat terjadi di bandara Baru.

"Analisis risko bencana yakni menghitung risiko apa saja yang akan terjadi jika ada bencana,semisal jika ada tsunami yang sangat dasyat, berapa bangunan yang rusak, kemana warga harus mengevakuasi diri?, berapa lama waktu evakuasi warga disekitar pantai?, berapa korban yang akan terkena dampak dan lainnya?," tuturnya.

Tak hanya itu, Eko pun menghimbau pemerintah agar membuat mitigasi yang cukup pada dua bencana berpotensial tersebut. Pada Gempa,Pemerintah diminta untuk bangunan tahan gempa hingga tingkat kekuatan tertentu,membangun ruang aman tahan terhadap hantaman bangunan lainnya serta menentukan jalur evakuasi.

Sementara tsunami, mitigasi bencana perlu memperhitungkan kemungkinan ketinggian gelombang tsunami, membuat hutan cemara laut serta membiarkan gumuk pasir dikawasan pantai untuk menahan laju tsunami dan memberi pelatihan evakuasi tsunami pada warga disekitar pantai.

Semua langkah ini dirasanya sangat penting dilakukan jika memang bandara akan berdiri dikawasan tersebut. Namun demikian ia mengungkapkan hal ini bukan berarti sebagai usaha untuk menghalang-halangi langkah pembangunan infrastruktur pemerintah.

Karena ia mengetahui betul bahwa pembangunan bandara ini bukan pembangunan fisik belaka namun demi membangun kesejahteraan masyarakat.

"Hanya saja Analisis risiko bencana diperlukan untuk mengurangi dampak yang timbul serta menekan jumlah korban jiwa saat terjadi bencana Tsunami ataupun gempa,"pungkasnya.| Syidiq Syaiful Ardli

back to top