Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

LBH nilai penyidik Polda DIY lamban tangani kasus penganiayaan oleh anggota Kepolisian DIY

LBH nilai penyidik Polda DIY lamban tangani kasus penganiayaan oleh anggota Kepolisian DIY

Jogja-KoPi│LBH Yogyakarta menilai bahwa penyidik sangat lamban dan terkesan tidak serius dalam mengusut tuntas kasus penganiayaan siswa SMK (Andika/17th) oleh salah satu anggota Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kasus kekerasan dan penganiayaan yang melibatkan anggota kepolisiasn Daerah Istimewa Yogyakarta terjadi pada tanggal 29 April 2016, bermula dari seseorang anak SMK bernama Andika (17th) mengalami kecelakaan (tabrakan) dengan salah seorang anggota Polres Sleman di daerah Margorejo, Sleman.

Akibat kecelakaan ini, seorang anggota Polres dengan inisial E tersebut tidak terima sehingga menelpon istri dan adik iparnya untuk menjemputnya ke lokasi kecelakaaan.

Sesampainya istri dan adik iparnya tersebut di lokasi kejadian, bukannya malah menolong korban (Andika dan E) namun justru memaki-maki Andika hingga terjadi pemukulan. Belakangan diketahui bahwa pelaku yang menganiaya Andika yaitu adik ipar E adalah seorang anggota Ditsabhara Polda DIY.

Pelaku menganiaya korban hingga korban jatuh dan tak sadarkan diri. Saat dilarikan ke RSUD Sleman, korban dalam kondisi hidung penuh dengan darah dan memar di kepala bagian belakang. Kondisi korban semakin memburuk dan akhirnya di rujuk ke RS Bathesda 2 Mei 2016, korban meninggal akibat pembekuan darah di kepala yang sudah sampai ke otak.

Menurut Ayah korban, Subianto (43th) bahwa bagian belakang tubuh korban (Andika) ditemukan banyak memar yang menurut rekam medis yang ada adalah hasil dari pukulan atau hantaman benda tumpul dan bukan dari luka kecelakaan.

Sedangkan, Ibu korban mengatakan bahwa ketika ia ditempat kejadian Ventri (istri E) mengatakan bahwa apa kurang pukulan yang diberikan oleh adiknya. “Ventri berkata pada anak saya apa kurang pukulan yang diberikan adiknya dan mengatakan bahwa anak saya mabuk. Kemudian adiknya mengatakan apa kurang mabuknya, di saya masih ada banyak”, jelas Kusdi Herdiyanti (37 th).

Keluarga telah melaporkan kasus ini ke bagian Reskrim Polda DIY (2 Mei 2016) dan Propam Polda DIY (17 Mei 2016). Namun hingga saat ini Pihak Penyidik Polda DIY belum menetapkan pelaku sebagai tersangka karena telah melakukan tindak pidana penganiayaan hingga mengakibatkan kematian.

LBH Yogyakarta menilai penyidik lamban dalam menangani kasus ini, terlihat dari pasal yang diugunakan untuk menjerat pelaku yaitu pasal 352 KUHP yang ancaman pidananya hanya 3 bulan penjara.

Menurut Birtha Mahanah, S.H, LBH Yogyakarta kasus penganiayaan ini merupakan kasus penganiayaan berat karena menimbulkan kematian bukan kasus penganiayaan ringan yang bisa dijerat dengan pasal 352 KUHP dan jika penyidik menjalankan prinsip fair trial seharusnya pasal yang diterapkan dalam kasus ini adalah pasal 351 ayat 3 dengan ancaman pidana 7 tahun penjara.

“Apalagi korban adalah seorang anak yang seharusnya Pihak Penyidik juga memperhatikan aturan-aturan hukum yang ada dalam UU Perlindungan Anak”, tambahnya.

Berangkat dari kejanggalan ini LBH Yogyakarta kemudian mempertanyakan profesionalisme kepolisan dalam menindak kasus penganiayaan dan kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian sendiri. “Seharusnya kasus ini sudah selesai ditangani, karena kasus ini tergolong dalam kategori mudah, sudah ada pendapat ahli, saksi, rekam medis. Seharusnya kasus ini sudah masuk ke pengadilan dan jaksa,” jelas Emanuel Gobay, S.H, LBH Yogyakarta.

Untuk itu LBH Yogyakarta menuntut kepada Penyidik dan jajaran kepolisian Polda DIY untuk menjunjung profesionalisme Kepolisian untuk mengusut dan menyelesakan kasus-kasus penganiayaan yang dilakukan oleh aparat kepolisian, usut tuntas kasus penganiayaan yang dialami oleh Andikan, dan adili anggota Ditsabhara Polda DIY pelaku penganiayan yang mengakibatkan Andika meninggal dunia.

back to top