Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Konseling untuk pelaku pelecehan seksual di UGM

Konseling untuk pelaku pelecehan seksual di UGM

Jogja-KoPiRifka Annisa Women Crisis Center masih memberikan konseling terhadap EH, dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gadjah Mada yang melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya.



Kasus EH bukan merupakan kasus pertama dann satu-satunya yang melibatkan profesi, pengajar, atau staf dilingkungan pendidikan. Setidaknya Rifka Annisa Women Crisi Center pernah mendampingi 214 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh oknum profesi dosen, guru, maupun staf akademik.

“Jenis kasus ini meliputi 146 kasus kekerasan terhadap istri, 22 kasus kekerasan dalam pacaran, 6 kasus kekerasan dalam keluarga, serta 32 kasus diantaranya adalah kasus pelecehan seksual dan 8 kasus pemerkosaan,” ungkap Suharti, Direktur Rifka Annisa Women Crisis Center.

Upaya yang dilakukan Rifka Annisa dalam menangani kasus pelecehan yang dilakukan oleh profesi, pengajar, atau staf dilingkungan pendidikan adalah dengan memberikan konseling pada pelaku termasuk EH. Konseling ini bukan dalam rangka mempengaruhi, menghindarkan atau meringankan pelaku dari proses hukum yang sedang dijalani.
“Konseling bagi pelaku bertujuan untuk mendorong pelaku bertanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukannya,” jelas Suharti.

Konseling yang diberikan Rifka Annisa terhadap EH telah berlangsung dari Januari 2016 atas permintaaan dari UGM. Sementara untuk detail konseling dan kasus yang dihadapi oleh EH, Suharti enggan meberikan penjelasan karena hal ini menyangkut kode etik dari Rifka Annisa sendiri.

Rifka Annisa mengapreasi atas hukuman yang diberikan UGM kepada EH, mengingat instrumen hukum kurang melndungi perempuan. Menurut Suharti, tindakan yang diambil oleh kampus dapat menjadi pelajaran agar tidak diulangi oleh yang lainnya. “Kami mendorong mahasiswa untuk berbicara dalam mengungkapkan kasusnya dan mendorong adanya menkanisme penanganan kekerasan perempuan di lingkungan kampus”, tambahnya.

Kasus pelecehan dilakukan EH

EH merupakan salah satu dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada. Pelecehan seksual ini bermula ketika korban (mahasiswi) meminta bantuan konsultasi kepada EH soal tugas presentasi kuliah pada April 2015, EH menyanggupi permintaan tersebut. Seusai bimbingan kuliah tersebut EH menceritakan kepada korban bahwa ia mendapatkan proyek dan meminta korban membantunya.

“April 2015 itu, dia (EH) menawari membantu proyeknya. Membantu me-resume penulisan jurnal gitu”, kata korban (dilansir dari kompas.com)

Sebelumnya korban mengenal EH sebagai sosok pengajar yang baik, ramah, dan berkarisma. Dalam proses pengerjaan tersebut EH beberapa kali mengajak korban bertemu pada saat malam hari antara pukul 19.00-21.30 WIB. Dan pada suatu ketika EH mengajak korban bertemu di suatu pusat studi di UGM. EH menunjukka sebuah rak buku yang akan digunakan korban untuk mengerjakan proyek. Korban kemudian berdiri dan tiba-tiba EH memluk korban dari samping sambil menjelaskan.

Korban sempat melindungi dirinya dengan tangan. “Kaget, takut, saya berusaha melindungi diri saya dengan menggunakan tangan”, jelas korban.

Seusai apa yang telah dilakukan EH kepada korban, korban sempat bertemu dengan EH beberapa kali. Namun, EH tidak meminta maaf dan bersikap biasa saja. Korban merasa ragu untuk mengungkit apa yang telah dilakukan EH. Ia memilih menceritakan hal tersebut kepada temannya, dan temannya menyarankannya untuk melaporkan hal tersebut..

Pada tahun 2016 korban menghubungi seseorang perwakilan dari kampus dan menyatakan kesediaanya untuk meneylesaikan kasusnya. Fisipol telah memberika sanksi kepada EH dengan membebastugaskan EH sebagai pembimbing skripsi dan tesis dan mewajibkan EH mengikuti konseling dengan Rifka Annisa Women’s Crisis Center.

 

back to top