Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Komunitas Gepeng Yogya protes Perda diskriminatif dan layanan tidak simpatik

Komunitas Gepeng Yogya protes Perda diskriminatif dan layanan tidak simpatik

Jogjakarta-KoPi| "Perda Gepeng Membunuh Kami" begitulah tulisan spanduk yang di bawa oleh komunitas gepeng saat aksi di depan kantor DPRD DIY, Kamis (26/11) pukul 10.00 WIB.

Puluhan massa dari Komunitas gepeng bersama Kaukus menuntut Perda Nomor 1 Tahun 2014 tentang pengelolaan gepeng tidak berjalan dengan baik.

Menurut Humas Kaukus Fairy Perda Gepeng tidak memberikan solusi terhadap persoalan gepeng. Justru Perda gepeng menjadi instrumen peraturan daerah yang mencerminkan diskriminasi dan arogansi negara.

Diawali dengan kriteria tentang gelandangan dan pengemis tidak diatur jelas dalam Perda gepeng. Selain itu penanganan di camp assesment pun masih jauh dari kelayakan.

"Semua kelompok gepeng, dikumpulin Jadi satu. Dari gelandangan anak-anak, Waria dan psikotik. Tidak ada pemisahan, tempatnya berbau amis dan pesing, itu camp assesment di Sewon," papar Fairy saat aksi di DPRD DIY.

Tidak hanya persoalan tempat, Fairy juga mengkritisi pendamping gepeng yang tidak memiliki simpati kepada gepeng.

Pasalnya terdapat kasus perlakuan pendamping memperlakukan gepeng dengan kasar bahkan bertindak kriminal.

"Orang itu datang ke situ, bilang Ibu ini tolong kasih makan yang baik. Soalnya kami bukan binatang. Lalu orang itu marah dengan petugas, karena dibilang binatang,"jelas Fairy.

Ke depan Kaukus akan terus mendampingi dan mengadvokasi gepeng. Untuk perbaikan kesejahtaraan gepeng. |Winda Efanur FS|

back to top