Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Komunitas Gepeng Yogya protes Perda diskriminatif dan layanan tidak simpatik

Komunitas Gepeng Yogya protes Perda diskriminatif dan layanan tidak simpatik

Jogjakarta-KoPi| "Perda Gepeng Membunuh Kami" begitulah tulisan spanduk yang di bawa oleh komunitas gepeng saat aksi di depan kantor DPRD DIY, Kamis (26/11) pukul 10.00 WIB.

Puluhan massa dari Komunitas gepeng bersama Kaukus menuntut Perda Nomor 1 Tahun 2014 tentang pengelolaan gepeng tidak berjalan dengan baik.

Menurut Humas Kaukus Fairy Perda Gepeng tidak memberikan solusi terhadap persoalan gepeng. Justru Perda gepeng menjadi instrumen peraturan daerah yang mencerminkan diskriminasi dan arogansi negara.

Diawali dengan kriteria tentang gelandangan dan pengemis tidak diatur jelas dalam Perda gepeng. Selain itu penanganan di camp assesment pun masih jauh dari kelayakan.

"Semua kelompok gepeng, dikumpulin Jadi satu. Dari gelandangan anak-anak, Waria dan psikotik. Tidak ada pemisahan, tempatnya berbau amis dan pesing, itu camp assesment di Sewon," papar Fairy saat aksi di DPRD DIY.

Tidak hanya persoalan tempat, Fairy juga mengkritisi pendamping gepeng yang tidak memiliki simpati kepada gepeng.

Pasalnya terdapat kasus perlakuan pendamping memperlakukan gepeng dengan kasar bahkan bertindak kriminal.

"Orang itu datang ke situ, bilang Ibu ini tolong kasih makan yang baik. Soalnya kami bukan binatang. Lalu orang itu marah dengan petugas, karena dibilang binatang,"jelas Fairy.

Ke depan Kaukus akan terus mendampingi dan mengadvokasi gepeng. Untuk perbaikan kesejahtaraan gepeng. |Winda Efanur FS|

back to top