Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Komunitas Gepeng Yogya protes Perda diskriminatif dan layanan tidak simpatik

Komunitas Gepeng Yogya protes Perda diskriminatif dan layanan tidak simpatik

Jogjakarta-KoPi| "Perda Gepeng Membunuh Kami" begitulah tulisan spanduk yang di bawa oleh komunitas gepeng saat aksi di depan kantor DPRD DIY, Kamis (26/11) pukul 10.00 WIB.

Puluhan massa dari Komunitas gepeng bersama Kaukus menuntut Perda Nomor 1 Tahun 2014 tentang pengelolaan gepeng tidak berjalan dengan baik.

Menurut Humas Kaukus Fairy Perda Gepeng tidak memberikan solusi terhadap persoalan gepeng. Justru Perda gepeng menjadi instrumen peraturan daerah yang mencerminkan diskriminasi dan arogansi negara.

Diawali dengan kriteria tentang gelandangan dan pengemis tidak diatur jelas dalam Perda gepeng. Selain itu penanganan di camp assesment pun masih jauh dari kelayakan.

"Semua kelompok gepeng, dikumpulin Jadi satu. Dari gelandangan anak-anak, Waria dan psikotik. Tidak ada pemisahan, tempatnya berbau amis dan pesing, itu camp assesment di Sewon," papar Fairy saat aksi di DPRD DIY.

Tidak hanya persoalan tempat, Fairy juga mengkritisi pendamping gepeng yang tidak memiliki simpati kepada gepeng.

Pasalnya terdapat kasus perlakuan pendamping memperlakukan gepeng dengan kasar bahkan bertindak kriminal.

"Orang itu datang ke situ, bilang Ibu ini tolong kasih makan yang baik. Soalnya kami bukan binatang. Lalu orang itu marah dengan petugas, karena dibilang binatang,"jelas Fairy.

Ke depan Kaukus akan terus mendampingi dan mengadvokasi gepeng. Untuk perbaikan kesejahtaraan gepeng. |Winda Efanur FS|

back to top