Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Jurnal predator mangsa ilmuwan Indonesia

Jurnal predator mangsa ilmuwan Indonesia

Jogja-KoPi”Untuk seorang dosen adakah ada pertanyaan dari malaikat munkar dan nakir untuk berapa penelitian yang tidak terpublikasi? dan apakah malaikat rakib dan atit mencatat dosa dosen akibat aktivasi riset?” merupakan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak terpikirkan di kepala para ilmuwan Indonesia. Penelitian hanya menjadi penelitian, tidak terpublikasi dan kadang malah masuk ke dalam jurnal predator.

Indonesia memiliki tingkat publikasi hasil penelitian yang rendah dibandingkan negara-negara lainnya. Research Performance in South East Asia menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 4.500 paper di tahun 2013 yang terpubliksi secara Internasional, jauh di bawah Malaysia (23.000 paper) dan Thailand (11.300 paper).

Ini menunjukkan bahwa sumbangsih keilmuan masyarakat cendekiawan Indonesia belum terlihat, publikasi ilmiah belum menjadi bagian dari aktivasi perguruan tinggi, rendahnya budaya tulis, serta ukuran dosen belum sampai pada produktivitas ilmiah.

Sementara itu, menurut Ismail Suardi Wekke, Akademi Imuwan Muda sekaligus dosen STAIN Sorong, jurnal predator menjadi salah satu ancaman terhadap integritas ilmuwan. Jurnal predator yang merupakan jurnal yang dibuat untuk tujuan memperoleh keuntungan finansial dengan mengabaikan etika ilmiah, atau biasa disebut sebagai jurnal abal-abal ini merupakan salah satu ancaman bagi ilmuwan indonesia. Pemicunya adalah internet yang memberikan kebebasan untuk semua orang atau Open Acces (OA).

Menurut Ismail, terdapat 126 Jurnal predator hingga maret 2013, antara lain Academic Exchange Quarterly, Advances in Forestry Latter, American Journal of Engineering Research, British Journal of Science, dan lainnya yang perlu dihati-hati oleh para ilmuwan Indonesia.

Jurnal predator ini memiliki cara kerja tersendiri dalam menarik para ilmuwan, yaitu dengan set up situs jurnal dengan membuat berbagai judul jurnal (dapat mencapai ratusan jurnal untuk satu publisher), dilanjutkan dengan menambahkan gambar dan grafik yang menarik serta menggunakan OJS maupun alamat palsu.

“Jurnal abal-abal juga sering mengirim email kepada para ilmuwan yang potensial, ini perlu untuk dicermati oleh ilmuwan jika mendapatkan email dari sebuah jurnal,” jelas Ismail Suardi Wekke.

Ismail juga menjelaskan ciri-ciri dari jurnal predator yaitu adanya publishing fee, dimana ini sangat mahal dan tidak ada peluang terbit jika tidak membayar, memiliki volume baru atau relatif baru, mengirim banyak spam email kepada ilmuwan, sulit dicari alamat aslinya, mayoritas dioperasikan di India, Pakistan dan Afrika. Kebanyakan penyumbang dominan dari jurnal predator adalah negara berkembang.

Padahal, jurnal predator akan berdampak pada migrasi makalah yang mana akan menurunkan produktivitas dan kepercayaan dari ilmuwan.

“Sudah saatnya kita menghindari jurnal predator yang tidak akan membuat harkat dan martabat bangsa kita menjadi lebih baik. Publikasi harus dilakukan di jurnal yang benar-benar jurnal bukan abal-abal sehingga produktivitas negara kita meninngkat, menghasilkan hak paten, hak intelektual yang berdampak pada naiknya harkat dan martabat bangsa,” jelas Ismail Suardi Wekke.

back to top