Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Gojek dilarang mangkal di UGM

Gojek dilarang mangkal di UGM

Sleman-KoPi| Sejak Senin (4/9) kemarin telah terpasang spanduk larangan mangkal bagi ojek online di berbagai lokasi di lingkungan UGM, seperti di sisi timur Fakultas Hukum dan Jalan Sains . Menurut kepala Pusat Keamanan, Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (PK4L) UGM, Dr. Noorhadi Rahardjo, larangan ini dimaksudkan untuk menertibkan para pengendara ojek yang kerap berhenti dan memenuhi sisi-sisi jalan hingga menghambat lalu lintas pengguna jalan lainnya.

“Kebijakan ini diterapkan setelah melihat kondisi di lapangan, ojek online banyak yang parkir sehingga jalan untuk lalu lintas kendaraan menjadi lebih sempit,” ujar Noorhadi saat dihubungi melalui telpon, Selasa (5/9).

Ia juga menyayangkan tindakan dari beberapa sopir ojek yang tidak mematuhi rambu-rambu yang ada, misalnya berkendara melawan arah demi memangkas waktu berkendara tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan bagi pengguna jalan lainnya.

Meski demikian, Noorhadi menekankan, aturan ini tidak dimaksudkan untuk membatasi penggunaan ojek online di lingkungan UGM atau mempersulit para pengguna jasa ojek, melainkan hanya untuk lebih menertibkan aktivitas penjemputan dan pengantaran agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

“Bukan berarti tidak boleh masuk. Saya rasa keberadaan mereka cukup bermanfaat. Kalau untuk mengantar dan menjemput penumpang ya silahkan saja, tapi berhenti seperlunya. Kalau sampai ada puluhan yang parkir di sepanjang jalan kan jadi mengganggu yang lain. Kami sudah beberapa kali mendapat keluhan terkait hal ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebelum mengeluarkan aturan ini pihaknya telah menempuh berbagai langkah persuasif, misalnya dengan teguran langsung di lapangan. Meski demikian, cara ini dinilai masih kurang efektif untuk mengatasi persoalan.

“Petugas kami sudah sering menegur. Kalau sudah ditegur memang saat itu langsung bergeser atau meninggalkan lokasi, tapi begitu petugasnya pergi mereka datang lagi,” tuturnya.

Tidak hanya itu, pihaknya bahkan telah beberapa kali menyambangi kantor pengelola ojek online yang diharapkan dapat memberikan pengertian kepada para pengendara ojek. Namun, ujarnya, bahkan himbauan dari sang pengelola pun seolah tidak digubris.

“Pihak pengelola ojek online mengatakan kepada kami bahwa memang tidak boleh mangkal seperti itu. Mereka bilang akan coba diingatkan, tapi memang susah. Mereka sendiri mengakui kesulitan, maka kami akhirnya mengambil insiatif ini sebagai cara untuk mengingatkan,” ucap Nurhadi.

Dua hari setelah pemberlakuan aturan ini, perubahan menurutnya secara perlahan telah terlihat. Ia berharap, dengan adanya aturan yang di berbagai sudut UGM ini para pengendara ojek dapat lebih tertib, sehingga sarana jalan yang ada dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.

“Sampai saat ini terlihat ada pengaruhnya meski belum sepenuhnya. Karena sudah ada tulisan mereka mungkin jadi segan untuk berlama-lama. Mudah-mudahan bisa dibangun rasa saling mengerti, menghargai sesama pengguna jalan,” pungkasnya. (Humas UGM/Gloria)

back to top