Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Dokter mata ini bermain hati

Dokter mata ini bermain hati

Namanya adalah dr. Erry Dewanto, Sp.M, seorang pakar bedah mata di Surabaya. Dokter mata ini berpenampilan ramah, bersuara lembut dan bertata krama halus. Dan, dia telah 'bermain hati' selama menjadi seorang pakar kesehatan mata.

Suatu sore gerimis berjatuhan perlahan, di salah satu kliniknya di Sepanjang Surabaya, dokter Erry tengah serius memeriksa dua orang pasien. Awalnya kami reporter KoPi memiliki jadwal pukul 16.00, namun harus mundur sampai pukul 17.00. Sebabnya, dokter Erry masih ingin memberi konsultasi pada dua pasien.

"Saya harus mengutamakan pasien saya, walaupun sebenarnya mereka datang di luar jam praktek saya. Saya ingin memberikan yang terbaik dan solusi pada kesehatan mata mereka."

Demikian dokter Erry mengklarifikasi atas mundurnya jadwal pertemuan kami.

"Mata adalah kehidupan. Matamu adalah kehidupanmu."

Lagi, dokter menjelaskan dengan senyumnya yang menebar hangat di antara rintik hujan sore itu. Saya beberapa waktu tercenung, kemudian mulai memberi pertanyaan. Salah satu pertanyaan tersebut adalah 'mengapa dokter sering sibuk dengan kegiatan bakti sosial yang tidak menghasilkan uang, bahkan mengeluarkan uang pribadi?'

Sebelum terjawab, seorang perawat masuk membawa dua gelas teh hangat. Ya, sangat membutuhkan teh hangat setelah perjalanan menuju klinik sempat dirintik hujan.

Setelah mempersilakan saya minum teh hangat, dokter Erry bercerita.

"Sejak kecil saya sering melihat orang-orang yang buta matanya. Lalu waktu itu, saya membayangkan bagaimana jika itu terjadi pada saya sendiri. Rasanya ngeri, sedih, dan suram. Itu memukul perasaan. Setelah itu saya bercita-cita menjadi dokter mata."

Dokter Erry menceritakan bagaimana dia berjuang agar diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, salah satu fakultas kedokteran terbaik di Asia. Ia diterima tahun 1986 dan lulus tahun 1992. Pada tahun 1999 mengambil spesialis mata di fakultas yang sama, lalu lulus tahun 2002. Setelah lulus spesialis mata, ia mengambil fellowship bedah plastik dan rekonstruksi mata di Fakultas Kedokteran UI tahun 2003. Lalu pada tahun 2010 mengambil brevet kompetensi bedah fakoemulsifikasi di FK UI.

"Saya menjadi dokter spesialis mata, tidak hanya sekedar mencari uang. Saya memiliki hati, Mas. Saya sangat sayang pada mereka yang mempunyai permasalahan mata. Sehingga sampai detik ini, selain kebanjiran pasien, saya tetap melakukan kegiatan bakti sosial".

Dokter Erry pernah melakukan bedah katarak untuk masyarakat luas dalam bakti sosial, selama satu hari membedah katarak 500 pasien. Dia merasakan kepuasan hati.

Nah, pembaca KoPi yang budiman jika ingin berkenalan dengan dokter mata yang bermain hati ini bisa klik ke websitenya di errydewanto.com. | Reporter: AG.

back to top