Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Dodok, Aktivis Lingkungan lakukan ritual jamas diri, protes pembangunan hotel di Yogya

Dodok, Aktivis Lingkungan lakukan ritual jamas diri, protes pembangunan hotel di Yogya

Jogja-KoPi| Aktivis lingkungan, Dodo Putra Bangsa kembali menggelar aksi menolak pembangunan hotel di Jogja. Aksi ini berlangsung singkat selama setengah jam mulai pukul 10.00-10.30 WIB, (5/2) di trotoar kantor Walikota Yogyakarta.

Berbeda dengan aksi pertama tahun 2014 silam mandi pasir di depan Fave Hotel, aksi kali ini Dodok melakukan ritual jamas diri. Dia menjamas diri dengan air dari 7 sumur Miliran, kembang 7 rupa, dan bersama 7 kampung korban pembangunan apartemen.

Menurut Dodok aksi jamas diri merupakan ruwat tanah leluhur. Ruwat dalam tradisi Jawa berfungsi untuk membersihkan. Sementara ruwatan kali ini untuk membersihkan Jogja dan menjauhkan Jogja dari kesialan. Lantaran menjamurnya hotel dan apartemen yang mengabaikan lingkungan.

"Tanah leluhur kita ini tergantung si dalang ini, pemangku kebijakan (sambil menunjuk tulisan walikota), sebenarnya si dalang menanggung dosa rakyatnya, tapi di Jogja lain, rakyat yang menanggung dosa pemimpin," jelas Dodok seusai aksi tunggal jamas diri pada Jumat, 5 Februari 2016.

Selama tiga tahun terakhir Dodok vokal menyuarakan penolakan pembangunan hotel dan apartemen.

"Kita lihat di sana (depan kantor walikota) banyak hotel crane-nya mubeng dimana-mana, hanya berjarak 100 meter dari kotamadya," kata warga Miliran ini.

Dodok berharap penggantian pemimpin nanti, Jogja memiliki sosok peminpin yang lebih peduli terhadap lingkungan.

"Sebentar lagi pemimpin mau ganti agar mendapatkan pemimpin yang peduli lingkungan, berbudaya untuk warga,"pungkas Dodok.

back to top