Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

BBPOM DIY temukan makanan pasar mengandung zat berbahaya

BBPOM DIY temukan makanan pasar mengandung zat berbahaya

Jogja-KoPi|Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Provinsi Yogyakarta menemukan makanan mengandung bahan berbahaya yang dikirim dari luar Yogyakarta. BBPOM berhasil menemukan 150 bungkus mie basah berformalin pada 10 Juni dan 21 dari 61 sampel makanan jajanan pasar terbukti mengandung boraks dan pewarna Rhodamin B di empat pasar.

"Sampel makanan tersebut diambil di Pasar Wates, Pasar Argosari, Pasar Bantul dan Pasar Godean,"terang Kepala Balai POM DIY Dra.I Gusti Ayu Adhi Aryapatni saat diwawancarai di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Jumat (16/4).

Ayu mengatakan semua makanan tersebut merupakan hasil razia selama ramadhan. Pihaknya menemukan makanan tersebut berasal dari produsen Jawa Tengah . Seperti temuan Mie berformalin berasal dari Muntilan dan 21 Sampel jajanan berasal dari Magelang, Kutoarjo,Purworejo, Kebumen, dan Solo.

Menurut Ayu, makanan yang buat takjil yang sempat di periksa di DIY tidak menunujukkan bahan berbahaya karena dibuat sendiri oleh warga DIY.

"Karena Takjil merupakan produksi rumahan,hal ini menunjukkan kalo produsen dari Jogja tidak menggunakan bahan berbahaya pada makanannya,"katanya.

Mengenai penyebab makanan jajanan dan pangan berbahaya yang dapat masuk ke DIY menurutnya karena tidak adanya aturan regulasi antarprovinsi yang melarang penjualan jajanan dan pangan tersebut.

Ayu menjelaskan setiap makanan pangan baik itu yang berbahaya ataupun tidak, dapat dikirim ke seluruh Indonesia. Ia pun harus mengawasi makanan yang masuk tersebut dengan cara razia berkala.

Selain itu,penyebab masuknya makanan berbahaya ke DIY ini juga bisa disebabkan oleh banyak hal. Ayu menjelaskan salah satu penyebabnya adalah terbatasnya tenaga kepengawasan BBPOM di setiap provinsi.

"Tenaga kepangawasan BBPOM terbatas seperti, Jawa Tengah sendiri wilayahnya terlalu luas, Balai POM di tingkat provinsi dan berlokasi di Semarang. Padahal pengawasan mereka sampai ke Muntilan, Magelang, Purworejo, Klaten, Kertosono,"terangnya.

Masalah inilah yang disinyalir olehnya sebagai penyebab masuknya makanan berbahan berbahaya ke DIY. Ia pun menginformasikan salah bentuk antisipasi balai pom adalah dengan penguatan balai pom dengan cara pembentukan balai pom tingkat Kabupaten.

Selama penguatan tersebut belum terbentuk ,ia menghimbau kepada masyarakat untuk waspada dan selalu mengecek makanan dengan cara cek KLIK (Kemasan,label,Ijin Edar dan Kadaluwarsa) sebelum membeli makanan.

Ini juga menjadi salah satu upaya pihaknya untuk mencegah masuknya makanan berbahaya masuk ke Yogyakarta.

"Harapannya agar masyarakat jangan sering membeli produk mereka,cukup dengan cek KLIK dan jangan membeli. Dan jika masyarakat tidak membeli makanan mereka maka mereka tidak akan memproduksi makanan berbahaya tersebut,"pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top