Menu
Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor SAR Yogyakarta

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor …

YOGYAKARTA - Senin (14/08...

Penyadang disabilitas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah

Penyadang disabilitas merasa diperl…

Sleman-KoPi| Organisasi P...

Organisasi Penyandang Difabel ajak masyarakat kawal PP penyandang Difabel

Organisasi Penyandang Difabel ajak …

Sleman-KoPi| Organisasi P...

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan M…

Sleman-KoPi|Koalisi Masya...

Paket umrah 15-17 juta berpotensi tipu calon jemaah

Paket umrah 15-17 juta berpotensi t…

Jogja-KoPi|Kepala Kanwil ...

Prev Next

BBPOM DIY temukan makanan pasar mengandung zat berbahaya

BBPOM DIY temukan makanan pasar mengandung zat berbahaya

Jogja-KoPi|Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Provinsi Yogyakarta menemukan makanan mengandung bahan berbahaya yang dikirim dari luar Yogyakarta. BBPOM berhasil menemukan 150 bungkus mie basah berformalin pada 10 Juni dan 21 dari 61 sampel makanan jajanan pasar terbukti mengandung boraks dan pewarna Rhodamin B di empat pasar.

"Sampel makanan tersebut diambil di Pasar Wates, Pasar Argosari, Pasar Bantul dan Pasar Godean,"terang Kepala Balai POM DIY Dra.I Gusti Ayu Adhi Aryapatni saat diwawancarai di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Jumat (16/4).

Ayu mengatakan semua makanan tersebut merupakan hasil razia selama ramadhan. Pihaknya menemukan makanan tersebut berasal dari produsen Jawa Tengah . Seperti temuan Mie berformalin berasal dari Muntilan dan 21 Sampel jajanan berasal dari Magelang, Kutoarjo,Purworejo, Kebumen, dan Solo.

Menurut Ayu, makanan yang buat takjil yang sempat di periksa di DIY tidak menunujukkan bahan berbahaya karena dibuat sendiri oleh warga DIY.

"Karena Takjil merupakan produksi rumahan,hal ini menunjukkan kalo produsen dari Jogja tidak menggunakan bahan berbahaya pada makanannya,"katanya.

Mengenai penyebab makanan jajanan dan pangan berbahaya yang dapat masuk ke DIY menurutnya karena tidak adanya aturan regulasi antarprovinsi yang melarang penjualan jajanan dan pangan tersebut.

Ayu menjelaskan setiap makanan pangan baik itu yang berbahaya ataupun tidak, dapat dikirim ke seluruh Indonesia. Ia pun harus mengawasi makanan yang masuk tersebut dengan cara razia berkala.

Selain itu,penyebab masuknya makanan berbahaya ke DIY ini juga bisa disebabkan oleh banyak hal. Ayu menjelaskan salah satu penyebabnya adalah terbatasnya tenaga kepengawasan BBPOM di setiap provinsi.

"Tenaga kepangawasan BBPOM terbatas seperti, Jawa Tengah sendiri wilayahnya terlalu luas, Balai POM di tingkat provinsi dan berlokasi di Semarang. Padahal pengawasan mereka sampai ke Muntilan, Magelang, Purworejo, Klaten, Kertosono,"terangnya.

Masalah inilah yang disinyalir olehnya sebagai penyebab masuknya makanan berbahan berbahaya ke DIY. Ia pun menginformasikan salah bentuk antisipasi balai pom adalah dengan penguatan balai pom dengan cara pembentukan balai pom tingkat Kabupaten.

Selama penguatan tersebut belum terbentuk ,ia menghimbau kepada masyarakat untuk waspada dan selalu mengecek makanan dengan cara cek KLIK (Kemasan,label,Ijin Edar dan Kadaluwarsa) sebelum membeli makanan.

Ini juga menjadi salah satu upaya pihaknya untuk mencegah masuknya makanan berbahaya masuk ke Yogyakarta.

"Harapannya agar masyarakat jangan sering membeli produk mereka,cukup dengan cek KLIK dan jangan membeli. Dan jika masyarakat tidak membeli makanan mereka maka mereka tidak akan memproduksi makanan berbahaya tersebut,"pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top