Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Baznas Sleman berharap zakat PNS dikuatkan dengan Perda

Baznas Sleman berharap zakat PNS dikuatkan dengan Perda

Sleman-KoPi| Kesra BAZNAS, Ihsan, menjelaskan Sleman berada di peringkat terendah dalam penarikan dana zakat. Hal itu disampaikan di dalam pembahasan sharing informasi BAZNAS Setda Sleman, Selasa (24/1).

Ihsan menjelaskan PNS terkena wajib zakat yaitu Zakat Profesi. Zakat Profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi yang dimaksud adalah pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, dan wiraswasta.

Ihsan menjelaskan semisal, jika seluruh PNS Sleman muslim membayar zakat, maka dana zakat yang terkumpul akan mencapai Rp. 7 miliar per tahun. Sementara saldo yang terkumpul tahun lalu hanya Rp. 2,9.

Menurutnya masih ada dana sekitar 4,1 miliar yang belum terkumpul dan tercatat. Hal ini menurutnya menyebabkan wilayah Sleman masuk peringkat terendah dalam penarikan dana zakat.

Rendahnya zakat profesi di Sleman, menurut Ihsan karena pengingatan soal pembayaran zakat masih berbentuk himbuan. Padahal untuk wilayah Kulonprogo dan Kota, penarikan zakat sudah diwajibkan. Sehingga, untuk penarikan dana zakat di wilayah Sleman dirasa kurang efektif.

“Efektif atau belum efektif karena memang beluma ada semacam perintah masih himbuan, berbeda dengan Kulonprogo atau kotamadya, Sleman dirasa masih stagnan karena tidak ada kepastian,” jelasnya.

Sementara itu, Kriswanto, pimpinan BAZNAS, mengatakan alasan kenapa PNS tidak membayar karena mereka sudah membayar sendiri tanpa BAZNAS. BAZNAS menjadi kesulitan unuk mencatat siapa saja yang sudah membayar zakat.

“Yang mungkin mereka berfikiran dirumah sudah membayar zakat entah kepada saudaranya atau lembaganya, ya jadi kita tidak bisa mengecek dan mencatat,”duganya.

Ihsan menambahkan seyogyanya untuk wajib zakat agar bisa masuk Peraturan Daerah (Perda). Beberapa upaya juga dilakukan BAZNAS Sleman untuk meningkatkan kesadaran PNS untuk membayar zakat, salah satunya dengan Sosialisasi dan melalui Pekan Zakat Panutan.

“Harapan kami dari Kesra, kami akan membuat suatu kegiatan sosialisasi lagi, kemudian menggunakan panutan zakat, yang akan dilakukan lagi adalah mnegumpulkan instansi-intansi kemudian kita adakan sosialisasi,” tutupnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top