Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk Balai Pemuda

Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk Balai Pemuda

Surabaya – KoPi. Balai Pemuda seakan kembali ke masa kolonial belanda meskipun saat ini sudah tidak ada lagi tulisan "Verboden voor honden en inlander" yang artinya Anjing dan pribumi dilarang masuk. Seniman lokal bagaikan pribumi ketika zaman kolonial belanda, mereka didiskriminasi dan seakan dipersulit langkahnya ketika hendak melakukan pagelaran seni dan budaya yang menggunakan gedung tersebut. 

Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Chrisman Hadi, saat dikonfirmasi dalam sebuah Pagelaran seni di Museum Bank Indonesia (17/4/2014) menegaskan kebenaran akan hal tersebut. Menurutnya, seniman asing lebih mendapatkan porsi untuk melaksanakan kegiatan dengan menggunakan gedung tersebut.

 

“Untuk seniman lokal didiskriminasikan, untuk seniman asing lebih diberikan tempat untuk mengadakan kegiatan. Jadi itu kayak kembali ke zaman kolonial, dulu ada forbidden “anjing dan pribumi dilarang masuk”, sekarang terjadi. Itu kan sama kondisinya ketika zaman kolonial, kalau dulu anjing dan pribumi dilarang masuk, sekarang seniman lokal dilarang masuk dengan alasan belum diresmikan. ” ucap cak Chris sapaan akrab Chrisman Hadi.

 

Anjing dan pribumi yang dimaksud oleh cak Chris tersebut adalah para seniman lokal yang dalam setiap pagelaran seni yang hendak menggunakan Balai Pemuda, selalu mendapatkan kesulitan dari pihak pengelola. Padahal, gedung itu (Balai Pemuda, Red) merupakan fasilitas umum yang seharusnya dapat digunakan oleh siapapun.

 

“Setiap kali ada seniman-seniman Surabaya yang mau memakai itu gedung, maka Disparta akan bilang bahwa gedung itu belum bisa dipakai, karena belum diresmikan penggunaannya” ungkap cak Chris.

 

Ketika dikonfirmasi lebih jauh mengenai apakah kemudian gedung itu tidak pernah digunakan untuk pertunjukkan atau pagelaran, Cak Chris mengkonfirmasi jika hal tersebut tidaklah benar. Menurutnya beberapa waktu lalu dilakukan pertunjukan musik korea dan ludruk remaja dan pertunjukan itu merupakan agenda rutin dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kota Surabaya.

 

Adanya agenda rutin dari Disbudpar kota Surabaya tersebut, dilihat sebagai upaya yang dilakukan untuk mengkerdilkan posisi DKS sebagai pemikir strategis tentang kebudayaan dan juga kesenian. Dalam hal ini Disbudpar dianggap masih belum melihat bahwa DKS adalah mitra strategis untuk membuat kota Surabaya menjadi lebih beradab. Cak Chris justru melihat adanya kejanggalan dalam kegiatan-kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata kota Surabaya.

 

“Maka, Kita melihat bahwa ternyata persoalan kegiatan seni dan budaya oleh disparta telah dijadikan obyek yang sarat nepotisme dan korupsi” pungkasnya.***

 

 

Reporter : Aditya Candra Lesmana

back to top