Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk Balai Pemuda

Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk Balai Pemuda

Surabaya – KoPi. Balai Pemuda seakan kembali ke masa kolonial belanda meskipun saat ini sudah tidak ada lagi tulisan "Verboden voor honden en inlander" yang artinya Anjing dan pribumi dilarang masuk. Seniman lokal bagaikan pribumi ketika zaman kolonial belanda, mereka didiskriminasi dan seakan dipersulit langkahnya ketika hendak melakukan pagelaran seni dan budaya yang menggunakan gedung tersebut. 

Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Chrisman Hadi, saat dikonfirmasi dalam sebuah Pagelaran seni di Museum Bank Indonesia (17/4/2014) menegaskan kebenaran akan hal tersebut. Menurutnya, seniman asing lebih mendapatkan porsi untuk melaksanakan kegiatan dengan menggunakan gedung tersebut.

 

“Untuk seniman lokal didiskriminasikan, untuk seniman asing lebih diberikan tempat untuk mengadakan kegiatan. Jadi itu kayak kembali ke zaman kolonial, dulu ada forbidden “anjing dan pribumi dilarang masuk”, sekarang terjadi. Itu kan sama kondisinya ketika zaman kolonial, kalau dulu anjing dan pribumi dilarang masuk, sekarang seniman lokal dilarang masuk dengan alasan belum diresmikan. ” ucap cak Chris sapaan akrab Chrisman Hadi.

 

Anjing dan pribumi yang dimaksud oleh cak Chris tersebut adalah para seniman lokal yang dalam setiap pagelaran seni yang hendak menggunakan Balai Pemuda, selalu mendapatkan kesulitan dari pihak pengelola. Padahal, gedung itu (Balai Pemuda, Red) merupakan fasilitas umum yang seharusnya dapat digunakan oleh siapapun.

 

“Setiap kali ada seniman-seniman Surabaya yang mau memakai itu gedung, maka Disparta akan bilang bahwa gedung itu belum bisa dipakai, karena belum diresmikan penggunaannya” ungkap cak Chris.

 

Ketika dikonfirmasi lebih jauh mengenai apakah kemudian gedung itu tidak pernah digunakan untuk pertunjukkan atau pagelaran, Cak Chris mengkonfirmasi jika hal tersebut tidaklah benar. Menurutnya beberapa waktu lalu dilakukan pertunjukan musik korea dan ludruk remaja dan pertunjukan itu merupakan agenda rutin dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kota Surabaya.

 

Adanya agenda rutin dari Disbudpar kota Surabaya tersebut, dilihat sebagai upaya yang dilakukan untuk mengkerdilkan posisi DKS sebagai pemikir strategis tentang kebudayaan dan juga kesenian. Dalam hal ini Disbudpar dianggap masih belum melihat bahwa DKS adalah mitra strategis untuk membuat kota Surabaya menjadi lebih beradab. Cak Chris justru melihat adanya kejanggalan dalam kegiatan-kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata kota Surabaya.

 

“Maka, Kita melihat bahwa ternyata persoalan kegiatan seni dan budaya oleh disparta telah dijadikan obyek yang sarat nepotisme dan korupsi” pungkasnya.***

 

 

Reporter : Aditya Candra Lesmana

back to top