Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Wanita ini melahirkan di saat badai siklon berkekuatan 220 mph

Wanita ini melahirkan di saat badai siklon berkekuatan 220 mph

Pasifik-KoPi| Seorang wanita telah menceritakan kisah yang luar biasa ketika badai siklon berkekuatan 220mph saat ia berlindung di sebuah pondok kayu yang rapuh. Marishan Magelan mempertaruhkan nyawa saat kelahiran anak pertama,  Angelina dengan ketar-ketir memegang dinding gubuk selama badai terjadi.

Magelan, wanita hebat yang tinggal di desa Imaiyo di Vanuatu di Pasifik Selatan, mengatakan dia tidak bisa percaya ketika kontraksi nya mulai pada saat yang sama badai Topan Pam datang pada 14 Maret lalu.

salah satu orang yang membantu kelahiran sempat khawatir saat Magelan melahirkan Angelina saat badai 220mph. Badai yang mampu merobek desa rumahnya di Imaiyo di negara pulau Pasifik Selatan Vanuatu.

saat terjadinya badai, ratusan orang berkumpul bersama-sama untuk berlindung di dua bangunan beton Imaiyo ini, klinik dan perpustakaan sekolah. Namun Magelan tidak bisa berkumpul karena kondisi hamil tua.

Sebaliknya, dia berlindung di sebuah "rumah kastorm aman" - sebuah gubuk yang dibuat cukup kuat untuk menahan badai - dan terpaksa membawa anak bayinya ke situasi siklon terbesar dalam sejarah di kawasan itu, yang menghancurkan sekelilingnya.

"Saya sangat takut, aku menghendaki diriku untuk tidak melahirkan, meskipun rasa sakit yang mengerikan saat itu. Aku berlindung di rumah aman dengan sekitar dua puluh desa lainnya. Badai itu lebih buruk daripada yang pernah kami alami”, kata Magelan.

Magelan menuturkan dirinya dibantu dengan tetangga yang luar biasa. Serta beberapa wanita yang menghiburnya.

"Saya akhirnya melahirkan putri saya pada hari Minggu pagi. Aku sangat lelah setelah cobaan tapi sangat senang bahwa bayi Angelina masih hidup. Kami telah berhasil melewati”, tuturnya.

Enam belas orang tewas dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal akibat Topan Pam, yang tecatat badai tropis paling parah. |mirror.co.uk|Winda Efanur FS|

back to top