Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Universitas Saudi larang mahasiswi memakai pakaian warna-warni

Universitas Saudi larang mahasiswi memakai pakaian warna-warni

Saudi-KoPi| Universitas Dammam yang terletak di Saudi Arabiya telah melarang para mahasiswi untuk mengenakan abaya berwarna. Abaya sendiri adalah pakaian longgar (biasa disebut gamis) yang sering dipakai oleh muslimah. Universitas khusus perempuan ini telah menangkap dua mahasiswinya yang mengenakan abaya berwarna dan mengatakan pakaian berwarna tidaklah tepat bagi sebuah institusi pendidikan.

Seorang mahasiswi mengatakan pekan lalu pengawas dan penjaga keamanan di beberapa universitas telah memulai kampanye dengan membatasi warna abaya menjadi hanya bewarna hitam. Nour Abdulhadi, seorang mahasiswi di salah satu universitas, mengatakan bahwa melanggar aturan baru tersebut merupakan pelanggaran serius yang akan dicatat dalam catatan disiplin siswa.

Supervisor di universitas-universitas tersebut menolak pengaruh pasar yang menjual abaya berwarna krem, coklat, abu-abu dan abaya berwarna lainnya. Humaniora College menegakkan aturan tersebut di kalangan mahasiswanya  untuk mencegah mereka dari pelanggaran catatan disiplin.

Selain itu, toko-toko yang menjual abaya tak luput dari pemeriksaan direktorat resmi. Mereka akan dikenai denda jika menjual abaya berwarna. Pemilik toko mengatakan peraturan ini dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja bekerja yang sama dengan Komisi yang menangani moral bernama Haia. Selain itu, para desainer baju juga menerima peringatan untuk hanya membuat abaya bewarna hitam.

Peraturan ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua desain yang dijual di pasar Saudi akan sesuai dengan kode pakaian islami yang telah ditetapkan oleh Kerajaan Saudi. Hal ini menjadi pro kontra di masyarakat, beberapa mendukung peraturan tersebut karena abaya berwarna tidak sesuai dengan busana Muslim, sementara yang lain mengatakan abaya berwarna merupakan kebebasan pribadi.

"Bagi saya, peraturan yang diberlakukan di universitas tidak menindas perempuan. Sebaliknya, universitas justru memastikan mahasiswinya untuk berpakaian sederhana sesuai dengan tuntunan agama," jelas Muhammad Al-Zahrani, seorang sosiolog. Beberapa syarat pakaian seorang muslimah antara lain pakaian tersebut harus terbuat dari kain yang tebal, tidak transparan, harus longgar dan menutupi seluruh tubuh, pada bagian lengannya tidak terlalu lebar, tidak boleh ada bordir yang menarik pada abagian atas, dan tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian yang biasa dipakai orang Barat. Dari definisi tersebut, menurut Al-Zahrani, abaya yang tidak sesuai dengan ketentuan tidak boleh dijual di Arab Saudi. |Al-Arabiya|

back to top