Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Universitas Saudi larang mahasiswi memakai pakaian warna-warni

Universitas Saudi larang mahasiswi memakai pakaian warna-warni

Saudi-KoPi| Universitas Dammam yang terletak di Saudi Arabiya telah melarang para mahasiswi untuk mengenakan abaya berwarna. Abaya sendiri adalah pakaian longgar (biasa disebut gamis) yang sering dipakai oleh muslimah. Universitas khusus perempuan ini telah menangkap dua mahasiswinya yang mengenakan abaya berwarna dan mengatakan pakaian berwarna tidaklah tepat bagi sebuah institusi pendidikan.

Seorang mahasiswi mengatakan pekan lalu pengawas dan penjaga keamanan di beberapa universitas telah memulai kampanye dengan membatasi warna abaya menjadi hanya bewarna hitam. Nour Abdulhadi, seorang mahasiswi di salah satu universitas, mengatakan bahwa melanggar aturan baru tersebut merupakan pelanggaran serius yang akan dicatat dalam catatan disiplin siswa.

Supervisor di universitas-universitas tersebut menolak pengaruh pasar yang menjual abaya berwarna krem, coklat, abu-abu dan abaya berwarna lainnya. Humaniora College menegakkan aturan tersebut di kalangan mahasiswanya  untuk mencegah mereka dari pelanggaran catatan disiplin.

Selain itu, toko-toko yang menjual abaya tak luput dari pemeriksaan direktorat resmi. Mereka akan dikenai denda jika menjual abaya berwarna. Pemilik toko mengatakan peraturan ini dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja bekerja yang sama dengan Komisi yang menangani moral bernama Haia. Selain itu, para desainer baju juga menerima peringatan untuk hanya membuat abaya bewarna hitam.

Peraturan ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua desain yang dijual di pasar Saudi akan sesuai dengan kode pakaian islami yang telah ditetapkan oleh Kerajaan Saudi. Hal ini menjadi pro kontra di masyarakat, beberapa mendukung peraturan tersebut karena abaya berwarna tidak sesuai dengan busana Muslim, sementara yang lain mengatakan abaya berwarna merupakan kebebasan pribadi.

"Bagi saya, peraturan yang diberlakukan di universitas tidak menindas perempuan. Sebaliknya, universitas justru memastikan mahasiswinya untuk berpakaian sederhana sesuai dengan tuntunan agama," jelas Muhammad Al-Zahrani, seorang sosiolog. Beberapa syarat pakaian seorang muslimah antara lain pakaian tersebut harus terbuat dari kain yang tebal, tidak transparan, harus longgar dan menutupi seluruh tubuh, pada bagian lengannya tidak terlalu lebar, tidak boleh ada bordir yang menarik pada abagian atas, dan tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian yang biasa dipakai orang Barat. Dari definisi tersebut, menurut Al-Zahrani, abaya yang tidak sesuai dengan ketentuan tidak boleh dijual di Arab Saudi. |Al-Arabiya|

back to top