Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Tragis nasib Rohingya, ditolak negara Burma

Tragis nasib Rohingya, ditolak negara Burma

Burma-KoPi | Sebanyak 6000 pengungsi dari Asia Tenggara terjebak di laut. Mereka adalah para pengungsi dengan kapasitas muatan melebihi batas keamanan yang berlayar menggukan perahu kayu.Para aktivis memperingatkan potensi kondisi berbahaya seperti sedikitnya bekal makan dan air bersih.

Walaupun beberapa penyelundup yang meninggalkan lepas pantai kemarin telah mencapai tanah yang relatif aman, namun ribuan orang Bangladesh dan muslim Rohingya dari Burma masih beresiko karam ditengah laut.

Komisaris Tinggi PBB khawatir tentang banyaknya kapal pengungsi yang tidak layak belayar. Mereka mengadakan pertemuan darurat dengan AS dan pemerintah lainnya.
Mereka menyatakan akan ada tindakan pencarian meskipun tidak melewati jalur Malaka. Salah satu masalah masyarakat Rohingya jika operasi ini diluncurkan.

Rohingya merupakan kelompok minoritas yang ditolak kewarganegaraan di Burma, tentu ini memicu kekhawatiran Negara-negara lain bahwa jika bantuan ini justru akan merugikan Negara dengan membeludaknya jumlah para pengungsi.
Sensus di Burma tidak menghitung Muslim Rohingya sebagai warga negara, kata badan PBB.

"Mereka adalah orang yang berada dalam kesulitan," kata Phil Robertson, dari Human Rights Watch di Bangkok. Dia meminta pemerintah bersatu untuk membantu mereka yang masih terdampar di laut, dalam hampir selama  dua bulan atau lebih. "Waktu tidak di pihak mereka," katanya.

Selama beberapa decade Muslim Rohingya telah menderita akibat diskriminasi negaranya yang mayoritas menganut Buddha Burma. Burma menganggap mereka pemukim ilegal dari Bangladesh meskipun keluarga mereka telah tinggal di sana selama beberapa generasi.
Dalam tiga operasi akhir tahun tahun lalu terhadap minoritas agama, penduduk yang berjumlah sekitar 1,3 juta, dipaksa pergi dari tempat tinggal mereka.  Mereka tinggal di kamp-kamp yang penuh sesak di luar ibukota negara bagian Rakhine, Sittwe, di mana hanya memiliki sedikit akses ke sekolah atau perawatan kesehatan yang memadai.

Chris Lewa, Direktur proyek Arakan non-profit, telah memantau keberangkatan dan kedatangan kapal untuk lebih dari satu dekade, memperkirakan lebih dari 100.000 pria, wanita dan anak-anak telah naik kapal sejak pertengahan 2012.

Kebanyakan mencoba untuk berlayar menuju Malaysia, Lewa percaya hingga 6.000 Rohingya dan Bangladesh sebagian besar masih berada di kapal kecil dan besar di Selat Malaka juga perairan internasional di dekatnya. Dengan akses terbatas tentang jumlah makanan dan air bersih, kesehatan yang buruk, Lawe menambahkan bahwa puluhan kematian telah dilaporkan.

Setelah empat kapal yang membawa hampir 600 orang berhasil mendarat di barat Indonesia. Seorang juru bicara Angkatan Laut Indonesia, Manahan Simorangkir, mengatakan tujuan mereka bukan Indonesia melainkan Malaysia.

"Kami tidak bermaksud untuk mencegah mereka memasuki wilayah RI, tetapi karena negara tujuan mereka bukanlah Indonesia, kami meminta mereka untuk terus ke negara tujuannya.”

Mereka yang berhasil sampai ke pantai, pada hari Minggu dibawa ke sebuah stadion olahraga di Lhoksukon, ibukota Kabupaten Aceh utara. Beberapa pengungsi juga diberi perawatan medis.

"Kami punya apa-apa untuk makan," kata Rashid Ahmed, seorang pria Rohingya 43 tahun. Dia mengatakan dia telah meninggalkan Rakhine, Burma, dengan putra sulungnya tiga bulan yang lalu.
Seorang pria Bangladesh, Mohamed Malik, mengatakan ia merasa yakin bahwa ia terdampar di Aceh, "Lega berada di sini karena kami menerima makanan, obat-obatan. Ini benar-benar melegakan, "kata pria itu.

“Akhir Minggu malam polisi menemukan sebuah kapal kayu besar terjebak di perairan dangkal di pantai di Langkawe, sebuah pulau di lepas Malaysia, dan ditemukan 865 pria, 101 wanita dan 52 anak-anak,” kata Jamil Ahmed, wakil kepala polisi di daerah itu.

"Kami percaya mungkin aka nada kapal yang datang lagi," kata Jamil. |The guardian| Luthfia Lathifatul|

back to top