Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Tangisan dunia untuk Aylan Kurdi

Tangisan dunia untuk Aylan Kurdi
KoPi| Sebuah foto bocah tewas terdampar di pesisir pantai Turki menggemparkan dunia.  Dengan baju merah, bocah yang telungkup di pesisir pantai tersebut merupakan korban atas peperangan Suriah.

Aylan Kurdi bocah tak bersalah atas peperangan di Suriah. Mereka berniat untuk bermigrasi menuju Pulau Kos, Yunani dan berharap kehidupan yang lebih baik. Bersama dengan ibu, kakak dan sang ayah, Abdullah Kurdi, ia menaiki kapal yang berisi 2 penyelundup dan 12 pengungsi dari Suriah dan Turki dengan membayar jaminan sebesar 4.000 Euro.

“Aku bertanya pada penyelundup itu, apakah kapalnya kosong? Haruskah aku turun bersama istri dan anak-anakku?,” ujar Abdullah Kurdi  seperti yang dilansir dari CNN.

Jawaban yang Abdullah terima bahwa mereka akan baik-baik saja. Sehingga keinginan besarnya untuk bermigrasi bisa segera terlaksana. Namun, di tengah laut ombak besar menghantam kapal mereka. Sang awak pengemudi dan penyelundup justru lompat dan meninggalkan kapal mereka.

Tanpa keahlian, Abdullah Al-Kurdi sempat mencoba mengambil kemudi kapal. “Ombak tinggi menghantam kapal dan membalikan kapal kami. Saya mencoba meraih anak dan istri saya. Tapi mereka meninggal satu persatu,” ujar Abdullah.

Abdullah  mencoba sekuat tenaga untuk menyelamatkan keluarganya. Namun takdir berkata lain.  Anak pertamanya, Galip dan istrinya Reyhan meninggal sesaat sebelum kematian bungsunya. “Saya tidak lagi punya masa depan. Masa depan saya telah sirna,” kata Abdullah agak terisak saat memberi sambutan di pemakaman.

Sebuah obituari yang ditulis di Sydney Morning Herald mendapat ruang teratas di surat kabar paling dihormati di Australia. Obituari tersebut bersamaan dengan pemakaman Aylan, ibu dan kakaknya yang tewas tenggelam.

"Kau tidak layak untuk tenggelam dalam dinginnya air dan dinginnya ketidakpedulian manusia. Kau bukan migran, bukan pengungsi. Kamu adalah seorang bocah kecil berusia tiga tahun yang ingin bermain dengan aman, jauh dari ancaman kekerasan dan perang. Pergi dalam damai Aylan Kurdi. Semoga Tuhan mengampuni kami karena menewaskanmu." |Labibah|

back to top