Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Selama 30 tahun akhirnya 'nama' kelelawar ini terungkap

Selama 30 tahun akhirnya 'nama' kelelawar ini terungkap

London-KoPi| Selama 30 tahun bangkai seekor kelelawar tersimpan di brangkas Natural History Museum London tanpa kejelasan spesies. Kini para ilmuwan telah menemukan asal spesies kelelawar tersebut. Sementara untuk memeriahkan acara Hallowen nanti, pihak museum akan mengumumkan keberadaan kelelawar ini.

Kelelawar itu bernama Rhinolophus Francisi, ditemukan oleh Charles Francis, yang melakukan penelitian di Malaysia pada tahun 1983. Rhinolophus Francisi kini sudah terdaftar di jurnal Acta Chiropterologica.
Pengamatan menggunakan computerized tomography (CT) scanner untuk menganalisis tulang rapuh hewan tanpa harus menyentuhnya.

Peneliti Museum zoologi, Roberto Portela Miguez menjelaskan hasil scan tengkorak kelelawar mengungkapkan runcing, gigi tajam bermata yang akan bekerja seperti gunting untuk memecah tubuh serangga.

Sementara sub-spesies kelelawar, Rhinolophus Francisi Thailandicus, juga telah ditemukan di hutan-hutan Thailand. Beberapa spesies kelelawar baru telah ditemukan di hutan Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Habitatnya terancam punah karena penebangan hutan untuk konversi pertanian.

Spesies baru untuk kelompok-kelompok serangga dan ikan yang ditemukan cukup secara teratur. Tetapi mamalia baru jarang ditemukan.

“Ini tantangan bagi kita untuk menemukan hal-hal lain di dunia, dan ini terkait dengan jasa museum yang telah mengoleksi mahluk alam. dan mendukung penelitian ini," kata Roberto. |theguardian.com|Winda Efanur FS|

back to top