Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Selama 30 tahun akhirnya 'nama' kelelawar ini terungkap

Selama 30 tahun akhirnya 'nama' kelelawar ini terungkap

London-KoPi| Selama 30 tahun bangkai seekor kelelawar tersimpan di brangkas Natural History Museum London tanpa kejelasan spesies. Kini para ilmuwan telah menemukan asal spesies kelelawar tersebut. Sementara untuk memeriahkan acara Hallowen nanti, pihak museum akan mengumumkan keberadaan kelelawar ini.

Kelelawar itu bernama Rhinolophus Francisi, ditemukan oleh Charles Francis, yang melakukan penelitian di Malaysia pada tahun 1983. Rhinolophus Francisi kini sudah terdaftar di jurnal Acta Chiropterologica.
Pengamatan menggunakan computerized tomography (CT) scanner untuk menganalisis tulang rapuh hewan tanpa harus menyentuhnya.

Peneliti Museum zoologi, Roberto Portela Miguez menjelaskan hasil scan tengkorak kelelawar mengungkapkan runcing, gigi tajam bermata yang akan bekerja seperti gunting untuk memecah tubuh serangga.

Sementara sub-spesies kelelawar, Rhinolophus Francisi Thailandicus, juga telah ditemukan di hutan-hutan Thailand. Beberapa spesies kelelawar baru telah ditemukan di hutan Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Habitatnya terancam punah karena penebangan hutan untuk konversi pertanian.

Spesies baru untuk kelompok-kelompok serangga dan ikan yang ditemukan cukup secara teratur. Tetapi mamalia baru jarang ditemukan.

“Ini tantangan bagi kita untuk menemukan hal-hal lain di dunia, dan ini terkait dengan jasa museum yang telah mengoleksi mahluk alam. dan mendukung penelitian ini," kata Roberto. |theguardian.com|Winda Efanur FS|

back to top