Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Selama 30 tahun akhirnya 'nama' kelelawar ini terungkap

Selama 30 tahun akhirnya 'nama' kelelawar ini terungkap

London-KoPi| Selama 30 tahun bangkai seekor kelelawar tersimpan di brangkas Natural History Museum London tanpa kejelasan spesies. Kini para ilmuwan telah menemukan asal spesies kelelawar tersebut. Sementara untuk memeriahkan acara Hallowen nanti, pihak museum akan mengumumkan keberadaan kelelawar ini.

Kelelawar itu bernama Rhinolophus Francisi, ditemukan oleh Charles Francis, yang melakukan penelitian di Malaysia pada tahun 1983. Rhinolophus Francisi kini sudah terdaftar di jurnal Acta Chiropterologica.
Pengamatan menggunakan computerized tomography (CT) scanner untuk menganalisis tulang rapuh hewan tanpa harus menyentuhnya.

Peneliti Museum zoologi, Roberto Portela Miguez menjelaskan hasil scan tengkorak kelelawar mengungkapkan runcing, gigi tajam bermata yang akan bekerja seperti gunting untuk memecah tubuh serangga.

Sementara sub-spesies kelelawar, Rhinolophus Francisi Thailandicus, juga telah ditemukan di hutan-hutan Thailand. Beberapa spesies kelelawar baru telah ditemukan di hutan Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Habitatnya terancam punah karena penebangan hutan untuk konversi pertanian.

Spesies baru untuk kelompok-kelompok serangga dan ikan yang ditemukan cukup secara teratur. Tetapi mamalia baru jarang ditemukan.

“Ini tantangan bagi kita untuk menemukan hal-hal lain di dunia, dan ini terkait dengan jasa museum yang telah mengoleksi mahluk alam. dan mendukung penelitian ini," kata Roberto. |theguardian.com|Winda Efanur FS|

back to top