Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Selama 30 tahun akhirnya 'nama' kelelawar ini terungkap

Selama 30 tahun akhirnya 'nama' kelelawar ini terungkap

London-KoPi| Selama 30 tahun bangkai seekor kelelawar tersimpan di brangkas Natural History Museum London tanpa kejelasan spesies. Kini para ilmuwan telah menemukan asal spesies kelelawar tersebut. Sementara untuk memeriahkan acara Hallowen nanti, pihak museum akan mengumumkan keberadaan kelelawar ini.

Kelelawar itu bernama Rhinolophus Francisi, ditemukan oleh Charles Francis, yang melakukan penelitian di Malaysia pada tahun 1983. Rhinolophus Francisi kini sudah terdaftar di jurnal Acta Chiropterologica.
Pengamatan menggunakan computerized tomography (CT) scanner untuk menganalisis tulang rapuh hewan tanpa harus menyentuhnya.

Peneliti Museum zoologi, Roberto Portela Miguez menjelaskan hasil scan tengkorak kelelawar mengungkapkan runcing, gigi tajam bermata yang akan bekerja seperti gunting untuk memecah tubuh serangga.

Sementara sub-spesies kelelawar, Rhinolophus Francisi Thailandicus, juga telah ditemukan di hutan-hutan Thailand. Beberapa spesies kelelawar baru telah ditemukan di hutan Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Habitatnya terancam punah karena penebangan hutan untuk konversi pertanian.

Spesies baru untuk kelompok-kelompok serangga dan ikan yang ditemukan cukup secara teratur. Tetapi mamalia baru jarang ditemukan.

“Ini tantangan bagi kita untuk menemukan hal-hal lain di dunia, dan ini terkait dengan jasa museum yang telah mengoleksi mahluk alam. dan mendukung penelitian ini," kata Roberto. |theguardian.com|Winda Efanur FS|

back to top